English English Indonesian Indonesian
oleh

Efek Bandwagon dan Isu Satu Putaran (Catatan Kritis atas Kolom M Qasim Mathar)

Oleh: Aswar Hasan*

Demokrasi (pemilu) yang berkualitas tidak bisa dikalkulasi dengan biaya yang murah. Demokrasi bukanlah barang murahan.

Melalui kolom “Jendela Langit” di koran ini (Harian FAJAR) M Qasim Mathar telah menulis tiga kali yang berujung pada penganjuran pemilu satu putaran saja. Pada kolom Sabtu (6/1/2024) berjudul: “Tiga Paslon Sama-sama Baik”, beliau menulis pada alinea ke-9: “Lalu, kenapa kita memilih kalau ketiga paslon baik semua? Adalah karena subjektivitas kita saja untuk memilih ‘yang terbaik’.”

Dari aspek judul kolom, bisa menyesatkan, karena menihilkan nuansa perbedaan antarcalon atas keterpilihan mereka kelak sebagai yang terbaik secara objektif menurut pemilih. Akan lebih tepat dan bijak sekiranya judul kurang lebih mengisyaratkan bahwa: “Tiga Paslon Sama-sama memenuhi Syarat Normatif Menurut KPU, Karenanya Berhak Dipilih”.

Kalimat dalam kolom itu menihilkan pertimbangan ojektivitas pemilih berdasarkan fakta objektif yang berkembang atas diri masing-masing paslon selama pemilu berlangsung. Pandangan M Qasim Mathar seolah-olah mengabaikan kapasitas objektivikasi pemilih. Pada edisi Sabtu (13/1/2024), M Qasim Mathar menulis: ”Haruskah Pemilu Dua Putaran?”.

Pada alinea ke-7, beliau menulis: “… saya menyarankan, mari perhatikan dukungan ketiga paslon sejak akhir Desember 2023 hingga awal Januari 2024. Siapa saja di antara tiga Paslon yang tertinggi persentase elektabilitasnya, kita ajak dan dorong sebanyak-banyaknya pemilih untuk memilih dan mencoblos calon yang tertinggi persentase elektabilitasnya; terserah apakah itu paslon nomor urut 1 (Anies-Muhaimin) atau nomor urut 2 (Prabowo- Gibran) atau nomor urut 3 (Ganjar-Mahfud)”.

News Feed