English English Indonesian Indonesian
oleh

Merayakan Ramadan: Kita Kamisan Aja!

Berkumpulnya orang orang pada hari Kamis di berbagai tempat seperti itu adalah bentuk ketiberdayaan kita terhadap penyelesaian Pelanggaran HAM. Saya teringat dengan pendapat Karl Mark yang menyebut bahwa agama adalah seperti candu bagi mereka yang tidak berdaya. Yap, bentuk ketidakberdayaan itu semakin terasa ketika salah satu Pelaku Pelanggar HAM mendapat gelar kehormatan oleh Negara, yah… tidak salah. Orang itu adalah Prabowo Subianto.

Untuk Pak Prabowo dan pendukungnya, ini bukan hinaan ya. Pasalnya, bapak sudah mengakui hal tersebut setiap debat capres yang membahas soal HAM. Yah, tidak berdaya. Kamisan tidak dilakukan di Moneman Mandala Makassar saja, tapi beberapa tempat di penjuru Indonesia. Salah satu yang konsisten di Jakarta. Disana memang menjadi prakarsa gerakan ini. Aksi kamisan dimulai sejak 18 Januari 2007, inisiatornya adalah 3 orang tergabung dalam Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK), yaitu Sumarsih, Suciwati Munir, dan Bedjo Untung.

Mereka adalah keluarga korban Pelanggaran HAM yang sampai saat ini belum mendapat kejelasan kematian keluarganya. Dalam keadaan tidak berdaya seperti itu, saya berpikir bahwa Negara juga tidak memiliki daya yang cukup untuk menangani Pelanggaran HAM. Mereka mungkin tidak punya anggaran yang cukup, pasalnya sekarang Negara sibuk mengurusi IKN, tambang, reklamasi, penggusuran masyarakat miskin kota dan bahkan mereka sibuk menanam jagung di polibak untuk ketahanan pangan. Eh, kalau tidak salah anggaran Negara juga banyak dialihkan untuk wacana makan siang gratis yang digaungkan oleh Pak Prabowo pada saat musim kampanye kemarin.

News Feed