English English Indonesian Indonesian
oleh

Dua Nikmat

“Sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dirimu juga akan hilang. Bahkan hampir-hampir sebagian harimu berlalu, lalu hilanglah seluruh dirimu ( mati), sedangkan engkau mengetahuinya. Oleh karena itu, beramallah.”

Gerak jarum jam berdetak terus maju ke depan. Seperti itulah hidup manusia terus melangkah maju. Ayunan kaki-kaki yang tak mengenal lelah seakan-akan terus mengikuti ritme jarum jam berburu dengan waktu yang tak pernah berhenti dan surut.

Begitulah hidup insan manusia mengikuti gerak napas yang keluar masuk yang menandakan bahwa hidup itu harus dijalani. Seorang penyair berkata, “Waktumu adalah umurmu. Umurmu adalah modal utamamu. Itulah yang bisa kau niagakan untuk sampai ke kebahagiaan abadi di sisi Allah Taala. Napas yang sudah diembuskan adalah permata, tetapi sudah tidak bernilai lagi. Hilang tanpa pengganti.”

Hidup adalah perniagaan kata syair di atas. Ada transaksi, tawar menawar, deal yang harus disepakati. Deal adalah sebuah konsekuensi final untuk merajut kehidupan. Ada napas yang diembuskan, lanjut syair tersebut, yang ketika keluar tidak lagi kembali. Yang kembali adalah napas baru, bertransformasi, menyempurnakan metabolisme agar sistem organ hidup, bergerak seperti mesin tanpa henti.

Itulah sebabnya oksigen yang kita hirup adalah harga sebuah kenikmatan yang gratis kita peroleh. Namun, ada saatnya oksigen itu bisa menjadi mahal, tatkala seseorang masuk rumah sakit dengan napas sesak, mungkin terkena serangan asma. Maka saat itu oksigen tidaklah menjadi gratis karena keberadaannya menjadi komoditas bisnis di dunia medis.

News Feed