English English Indonesian Indonesian
oleh

Sosok Profesor Penulis

UIN Alauddin Makassar kembali menghasilkan tiga Profesor yakni, Prof Firdaus Muhammad, Prof Muhammad Sabri, dan Prof Sohrah. Pengukuhan dilaksanakan dalam Sidang Senat Terbuka Luar Biasa di Auditorium Kampus 2 UIN Alauddin (24/4/2024). Prof Firdaus dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Komunikasi Politik Islam pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Orasi ilmiahnya menyinggung relasi ulama, kekuasaan, dan keindonesiaan resonansi satu abad komunikasi politik Nahdlatul Ulama. Prof Sabri dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Filsafat Islam pada Fakultas Syariah dan Hukum. Orasi ilmiahnya membahas tentang Ketuhanan yang Berkebudayaan dalam Timbangan Philosophia Perennis: Gagasan Bung Karno untuk Indonesia yang Inklusif, Moderat, dan Toleran. Adapun Prof Sohrah dikukuhkan sebagai guru besar bidang Ilmu Tafsir pada Fakultas Syariah dan Hukum yang membahas konsep Syura dan Gagasan Demokrasi (Telaah Ayat-ayat Al-Qur’an).

Prof Sabri dan Prof Firdaus adalah sahabat karib saya dan sudah mengenal mereka lebih tiga dekade. Prof Sabri teman dalam seperjuangan ketika menjadi Pengurus (Ketua) Badko Intim (Indonesia Timur yang dikomandoi dr. Zaenal Abidin, SH, MH (mantan ketua PB IDI Periode 2012-2014). Beliau juga pernah mengajar saya di S-3 Pemikiran Islam di UIN Alauddin dalam kajian Filsafat Islam. Beliau dikenal sebagai penulis yang sarat makna filosofi, dan tulisannya hanya mampu ditangkap di kalangan kaum intelektual.

Bagi Prof Sabri, menulis adalah panggilan jiwa dalam mengabdikan diri kepada masyarakat. Dalam pandangannya, seorang akademisi harus menjadi cendekiawan sementara salah satu ekspresi seorang cendekiawan adalah menulis. Namun, menurut Direktur Pengkajian Materi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), cendekiawan itu jauh lebih luas dari akademisi. Lantaran akademisi sangat dekat dengan urusan mengajar, sementara cendekiawan lebih luas dari itu, merupakan terjemahan dari intelektual publik yang memberi pemahaman pemikiran kepada masyarakat.

Beda dengan Prof Firdaus, relasi pertemanan dimulai ketika saya jadi guru di Pesantren An-Nahdlah kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu. Sambil kuliah di Fak. Kedokteran Unhas saya juga mengajar Biologi. Suatu hari Firdaus muda bertanya. “Ustaz bagaimana caranya menulis yang baik” Saya jawab, “Menulislah, nanti saya akan mengoreksi tulisanmu dan kamu bisa belajar dari situ.” Ketika waktu berjalan terus, kepiawaiannya menulis terus diasah hingga menghasilkan banyak jurnal, opini, dan buku. Di tengah kesibukannya sebagai Dekan Fak. Dakwah dan Komunikasi di UIN Alauddin, menulis dan berceramah tetap terus dilakoninya.

Dalam analisa Prof Firdaus yang fokus mengkaji komunikasi politik Islam menemukan fakta, bahwa para ulama mengembangkan komunikasi politik, tetapi bukan politik pragmatis, melainkan politik sebagai alat untuk dakwah. Komunikasi politik yang dikembangkan para ulama, kata Beliau, berupa jalan kekuasaan untuk pengembangan dakwah. Mulai dari nabi, sahabat, hingga ulama seperti Syekh Yusuf Tajul Khalwati. Dalam kiprahnya sebagai cendekiawan, Prof Firdaus menjadikan politik sebagai medan dakwahnya. Baginya, politik itu adalah dakwah, tidak cukup hanya berada di mimbar saja, tetapi politik juga bisa menjadi sumber kebaikan. Dunia politik dipenuhi banyak sekali kemungkaran dan kejahatan politik, maka harus diperbaiki di ranah itu.

Salah satu karya monumental dari Prof Firdaus adalah mengumpulkan riwayat hidup 50 ulama di Sulawesi Selatan dan Barat yang menghasilkan buku Anregurutta: Literasi Ulama Sulawesi Selatan. Buku ini terbit tidak terlepas dari keinginannya untuk kembali menumbuhkan tradisi literasi ulama. Selain itu, buku ini juga hadir untuk mengenalkan sosok sekaligus nilai-nilai keteladanan para ulama kepada generasi muda. Wallahu a’lam

News Feed