English English Indonesian Indonesian
oleh

Moral Subjektif

Oleh: Hamdan Juhannis
Rektor UIN Alauddin

Ada satu titik penting tentang kepercayaan. Kepercayaan itu sama dengan modal sosial lainnya, bisa mengental, tapi bisa juga mengalami krisis. Kepercayaan juga ada masa berlakunya, istilahnya “expired”. Jadi kalau ada yang mengatakan, “sekali saya mempercayaimu, maka akan percaya selamanya,” itu namanya gombal.

Modal kepercayaan itu akan mengalami “kristalisasi” seiring dengan perjalanan waktu. Seseorang yang semakin mempercayai yang lain karena pada pertautannya ada proses pengentalan. Orang yang dipercayai sudah seringkali diuji sampai pada hal yang paling mendasar. Dia bukan hanya lulus pada pada aspek yang remeh tetapi sampai pada hal yang besar. Persis seperti nasihat orang bijak, “berikan kepercayaan kepada seseorang sampai pada titik dia masih terpercaya saat kebanyakan orang tidak lagi bisa dipercaya pada titik itu.”

Namun, saya menggelari kepercayaan itu sebagai “moral subjektif.” Karena kepercayaan itu tidak berlaku objektif pada semua lini. Anda boleh tidak setuju, tapi izinkan saya menjelaskannya. Saya menyebutnya sebagai moral subjektif karena ada subjektivitas cara pandang dari yang memercayai dan subjektivitas perilaku dari orang yang dipercayai. Dari moral subjektif inilah orang sering berbeda dalam menentukan apakah perilaku seseorang itu terpercaya atau tidak. Kepercayaan sebagai moral subjektif juga menyebabkan mengapa di satu sisi, ada menganggap seseorang itu disebut pahlawan, tapi orang lain menyebutnya pengkhianat.

Kepercayaan sebagai moral subjektif juga bisa menjelaskan mengapa seorang laki-laki dipercaya pada aspek materi, misalnya integritas terhadap masalah keuangan (harta), tapi dia bermasalah pada moral terhadap lawan jenis (wanita), demikian pula sebaliknya. Bisa saja orang itu layak dipercaya untuk pengelolaan materi, tapi sangat lemah tingkat kepercayaanya pada manajemen waktu.

Contoh lain, seorang ayah yang tersangkut dengan kasus, rela mengorbankan kepercayaan publik pada dirinya, bisa saja penyebabnya karena ingin menjadi “pahlawan” bagi istri dan anak-anaknya. Sampai di sini, saya tidak melakukan pembenaran terhadap sebuah penyimpangan, tapi sekadar menguji mengapa perilaku sosial orang sering tidak bergaris lurus secara moral.

Tentu ada orang yang bisa dipercaya pada ragam urusan, dan orang itu bukan cerita fiksi, Tetapi bisa saja jumlahnya tidak begitu banyak. Karena sebagai nilai moral, terkadang kepercayaan diterjemahkan sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan. Itulah, untuk menjadikan kepercayaan sebagai “moral objektif”, kita sering mengalami kesulitan untuk menerapkannya dalam kehidupan sosial. Jadi seseorang yang ingin menaruh kepercayaan kepada orang lain, pertanyaannya pada aspek mana dia ingin mempercayainya.

Itulah beratnya menjadi orang yang terpercaya. Beratnya di sini, sambil saya menunjuk posisi hati di tubuh saya. Orang yang memilki tingkat kepercayaan yang tinggi terletak pada kemampuannya memenangkan perang melawan dirinya (hatinya). Istilah seorang tokoh, beratnya untuk menjadi orang terpercaya karena mensyaratkan kemampuan menekan niat dan kesempatan sekaligus. Bisaki’? (*/)

News Feed