English English Indonesian Indonesian
oleh

Dari FTMI XVII: Perdebatan yang Lahir dari Mulut-mulut Kita

Mahasiswa berfestival. Gagasan-gagasan mereka sajikan dalam bentuk pertunjukan teater. Itu untuk menjadi yang terbaik.

Ilham Wasi
Gedung Kesenian Makassar

Sembilan peserta pementas di FTMI kali ini. Wadah pertemuan teater Se Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) ini mementaskan karya mereka di Gedung Kesenian Sulsel Societeit De Harmonie sejak Senin, 13 November hingga 15 November 2023. Pentas dimulai sore hari hingga malam hari. FTMI dilaksanakan sejak tahun 2000 dan tuan rumah FTMI ke-17 ini, BKMF De Art Studio FSD UNM.

Silih berganti pekerja seni kampus unjuk kebolehan. Mereka ingin menjadi yang terbaik untuk mendapat piala Thespis dan merebut sejumlah kategori dari penyaji terbaik, aktor, aktris, sutradara, dan penata terbaik. Pentas pembuka UKM Seni Katarsis LP3I Makassar yang menyajikan “Malam Jahanam”, Terkam FSD UNM (Pasung), Bengkel Sastra Dema JBSI FBS UNM (Tania Andi), Kosaster Siin Unasman (Hukum Darwin), KisSA UINAM (Ayah), dan Teater Kampus Unhas (Bau Mulut). Pentas terakhir UKM Romansa, Lentera FBS UNM, dan UKM Titik Dua UNM sebagai penutup, hari ini, 15 November.

Malam kemarin, Teater Kampus Unhas baru saja menuntaskan penampilannya “Bau Mulut”. Kisah yang diambil dari latar pandemi Covid-19. Adegan diawali saat tiga aktor melindungi diri dengan plastik dan dua aktor lainnya berguling seakan memutar waktu dan mengingatkan detik-detik pandemi ini lahir.

Sutradara “Bau Mulut” Aan Aras Halim menilai, naskah tersebut sangat cocok untuk ditampilkan di FTMI ke-17. Itu karena sarat akan kritik satire keadaan dan kondisi tahun sebelumnya.

“Naskah yang absurd ini banyak mengandung kritikan satire, khususnya di tahun 2019 saat covid kemarin. Penulis sekaligus senior kami di TKU menuliskan segala keresahannya di tahun-tahun tersebut,” jelas Aan, Selasa, 14 November.

Mahasiswa Sastra Daerah Unhas ini menyebutkan, naskah Bau Mulut tersebut merupakan tafsiran dari perdebatan dan keriuhan yang muncul kala pandemi. Awalnya ada yang menganggap pandemi hanya desas-desus kemudian terasa efeknya.

Banyak juga yang bertanya soal asal-usul penyakit ini. Saling curiga satu sama lain terjadi, padahal kala menghadapi situasi sulit dibutuhkan kerja sama agar keluar dari masa-masa krisis.

“Jadi Bau Mulut sebenarnya tidak hanya merujuk ke covid, tapi banyaknya perdebatan simpang siur yang terjadi kala itu dari mulut-mulut kita,” jelasnya.

Adapun aktor dari teater Bau Mulut yaitu, Ana (mulut 1), Yaya (mulut 2), Ria (mulut 3), Akhdan (mulut 4), Bela (mulut 5), dan Mahda (mulut 6). Tim produksi yang terlibat yakni, Adim (artistik), Fauzia dan Adrian (cahaya), Bela (rias dan busana), dan Inna (desain grafis).

Kata dia, secara artistik, dominan menghadirkan plastik karena menurutnya barang tersebut sangat urgen saat Covid-19. “Plastik ini menjadi simbol bahwa 2019 itu kita sangat membutuhkan plastik, mulai dari sekat sampai ke pelindung diri,” katanya.

Ketua UKM TKU, Ana Jurana mengatakan, pementasan tersebut memiliki berbagai tafsiran sehingga perlu disaksikan dengan baik. “Tiap adegan pementasan memiliki simbolik tersendiri yang membawa penonton untuk berpikir kejadian apa saja yang telah terjadi beberapa tahun terakhir. Dalam proses penggarapan yang panjang berharap dari pementasan kemarin dan ke depannya penonton makin menantikan penampilan dari Teater Kampus Unhas,” jelasnya. (*/)

News Feed