English English Indonesian Indonesian
oleh

Subtansi Pilpres pada Proses (Tanggapan Balik untuk M Qasim Mathar)

Konsep ini menyoroti peran media dan pengaruh opini publik dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap berbagai isu dan peristiwa. Termasuk peristiwa politik kampanye yang banyak melenakan itu. Dengan demikian, menyepadankan skor sepak bola dan indeks survei paslon dalam pemilu, sungguh tidaklah tepat.

Kedua, dalam dunia sepak bola, orientasinya adalah siapa yang menang, sementara prosesnya adalah nomor dua. Dalam demokrasi pemilu, justru yang lebih utama adalah prosesnya. Karena jika prosesnya buruk, maka hasilnya juga akan buruk. Para ahli demokrasi sudah sepakat bahwa proses demokrasi lebih penting karena proses mencerminkan hasil.

Logika Demokrasi

Lebih mengkhawatirkan lagi M Qasim Mathar mengusulkan (menganjurkan) agar ke depan pemilu cukup satu putaran. Pemenangnya ialah yang meraih suara terbanyak walau kurang 50 persen. Itulah pemenang sejati. Bukan pemenang “keroyokan” karena para pemilik suara kecil diberi kesempatan di putaran kedua mengeroyok pemilik suara besar.

Anjuran tersebut sungguh berbanding terbalik dengan logika berdemokrasi. Koalisi atau aliansi dalam berdemokrasi bukanlah keroyokan. Pemenang kontestasi di bawah 50 persen adalah anomali dalam demokrasi.

Alhasil, akan lebih bijak jika mengajak publik untuk lebih mementingkan proses dalam berdemokrasi dalam pemilu, daripada menganjurkan atau menggiring warga untuk memilih satu ataupun dua putaran karena toh keduanya (satu atau dua putaran) sama-sama dimungkinkan sesuai aturan kita dalam berdemokrasi. Wallahu alam bissawab. (*/zuk)

News Feed