English English Indonesian Indonesian
oleh

Jadi Anak Presiden, Oh Indahnya….

OLEH: Nasrullah Mappatang, Alumni FIB Unhas

Judul di atas begitu saja terlintas dan nyambung dengan lirik lagu berjudul Cinta Satu Malam yang dipopulerkan oleh Melinda. Di dunia hiburan, terutama di arus bawah masyarakat Nusantara, lagu ini pernah hits dan seperti menjadi lagu wajib bagi angkot dalam kota atau antar kota dalam provinsi (AKDP).

Mengutip dan memplesetkan lirik lagu atau menggunakan pantun jenaka dan sarkas seringkali memang menghiasi panggung politik jelang suksesi. Cara – cara itu, tentunya bisa dilakukan jika aktor politiknya adalah mereka yang lihai dalam memainkan peran. Alwy Rachman menyebutnya dengan “seniman politik”. Seniman politik bukanlah seniman yang berpolitik praktis (baca: jadi caleg) atau politisi yang “berlagak” seperti seniman. Seniman politik bekerja melampaui kepentingan politik praktis yang berorientasi kursi, jabatan, dan proyek, melainkan berorientasi nilai dan keadilan publik.

Meminjam lirik lagu Cinta Satu Malam, judul tulisan Jadi Anak presiden, oh Indahnya ini, tiba – tiba saja muncul di top mind (puncak pikiran). Seolah memang “sungguh enak jadi anak presiden di negeri ini”, apatahlagi jika pamannya juga adalah ketua Mahkamah Konstitusi. Aturan bisa diubah mengikuti selera “keluarga”.

Lirik asli dan versi kreatif lagu di atas kira – kira seperti di bawah ini;

Cinta satu malam

Oh indahnya

Cinta satu malam

Buatku melayang

Walau satu malam

Akan selalu ku kenang

Dalam hidupku

Cinta satu malam

Oh indahnya

Cinta satu malam

Buatku melayang

Walau satu malam

Akan selalu ku kenang

Selama-lamanya

Jadi anak presiden

Oh indahnya

Jadi anak presiden

Buatku melayang

Jadi ponakan MK

Akan selalu ku kenang

Dalam hidupku

Jadi anak presiden

Oh indahnya

Jadi anak presiden

Buatku melayang

Jadi ponakan MK

Akan selalu ku kenang

Selama-lamanya

Wah, benar – benar jenaka. Seni memang tak pernah kehilangan akal dan kreativitas ketika berhadapan dengan kekuasaan. Dengan kekuasaan yang “otoriter” maupun “yang pura – pura demokratis” sekalipun. Seni boleh dibilang jalan untuk melakukan resistensi dan upaya untuk berusaha menjadi tangguh bagi masyarakat sipil (the way for resistance and resilience). Seni membangkang dan jalan menjadi tangguh.

Bahkan, di tempat lain, tiga gen z di instagram viral dengan “kejenakaan” yang lain. Mereka mengutip lirik lagu;

“Kemarin paman datang, datangnya dari kota”.,

diubah menjadi:

“Kemarin paman datang, datangnya dari MK”.

Asli. Asli para gen z ini benar – benar “lihai” dalam “mengolok – olok” kekuasaan dengan cara “jenaka”.

Perilaku gen z ini mengingatkan kita kepada dalil Alinsky (Alinsky’s rule) yang mengatakan bahwa “seranglah lawanmu dengan cara jenaka”. Jenaka betul. Tapi, mengena.

Selain itu, ketiga gen z ini bilang,

“MK itu Mahkamah Konstitusi kan? Bukan Mahkamah Keluarga, kalau urusan keluarga, selesaikan di rumah dong”.

Yang satu lagi menimpali,

“Maaf, ini urusan dinas”.

“Dinasti, maksudnya?” balas satunya lagi dengan jenaka.

“Bukan, dinanti, dinanti cawapres muda” jawabnya lagi.

Percakapan – percakapan jenaka di atas boleh dibaca sebagai seni dalam melakukan resistensi atas pemandangan politik belakangan ini di Indonesia. Jelang pendaftaran capres – cawapres, adegan – adegan kurang elok para elit ditambah dramatisasi – dramatisasi media mainstream, memang berpotensi membuat para gen z “geram”. Publik luas pun boleh jadi dibuat semakin “jengkel”.

“Ini adegan apaan? Bukankah ini untuk mengurusi hidup kami lima tahun ke depan?”

“Kenapa mesti drama – drama dan ‘norak’ begitu?”

Begitu kira – kira isi pikiran kaum gen z dan para milenial muda beberapa hari terakhir. Nurani mereka terketuk melihat “kepalsuan – kepalsuan” politik yang dipertontonkan begitu vulgarnya. Bahkan, seperti tanpa rasa malu.

***

Ketiga gen z yang secara kritis di instagram di atas boleh jadi belum pernah membaca buku Saul D. Alinsky (1972) yang berjudul Rules for Radicals: A Pragmatic Primer for Realistic Radicals. Namun, ketiganya begitu lihai dalam mempraktikkan cara “mengolok-olok” kekuasaan dengan cara “jenaka”. Aksi “artistik” ini muncul (emerge) justru ketiga para “abang – abang” dan “kakak – kakaknya” banyak mengejek dan memandang rendahnya sebagai generasi yang “tidak jelas” dan “lemah”. Apatahlagi, mereka yang menikmati “kue kekuasaan” atau “remah – remah” ‘jatah relawan’.

Rupanya, para gen z punya cara bersuara dan melawan sesuai zamannya. Mungkin para generasi millennial tua dan baby boomers saja yang terlalu kaku dan gagal update (gadet). Para gen z membuktikan eksistensi zamannya.

Alinsky adalah seorang organizer komunitas rakyat di Amerika yang dikenal oleh para aktivis di seluruh penjuru dunia. Dedikasi dan karyanya banyak dibaca oleh aktivis dan organizer perlawanan, tak terkecuali di Asia Tenggara, khususnya. Singapura, Indonesia, dan Malaysia. Alinsky adalah sebuah “metode”, jalan, dan taktik oleh para intelektual organik, aktivis, dan organiser di arus bawah dalam menghadapi politik sehari – hari (daily life politics) yang berubah secara cepat dan kadang – kadang menguras emosi.

Di Indonesia, khususnya di Makassar, aktivis masyarakat sipil dikenalkan dalil – dalil Alinsky oleh Alwy Rachman (2009) lewat ulasan di blog pribadinya yang masih boleh diakses hingga saat ini. Tulisan itu berjudul 10 Taktik Untuk Para Radikal: Dalil – dalil Alinsky tentang Kekuatan dan Kekuasaan. Tulisan ini ditulis 14 tahun lalu tepatnya 24 November 2009.

Dalil ke-5 berbunyi:

 “Hadapi lawan anda dengan cara mengejeknya secara komikal. Cara komikal akan membuat lawan anda menjadi bahan tertawaan (ridicule). Cara ini biasanya sulit dibalas. Kalau pada akhirnya, musuh mengimbanginya dan bereaksi terhadap ridicule, keuntungan biasanya ada di pihak anda. Ridicule sesungguhnya adalah senjata yang poten dan ampuh.” (Alwy Rachman, 2009)

Alwy Rachman tentu tidak pernah mengajari ketiga milenial di atas untuk secara kreatif menunjukkan ketidaksetujuan mereka dengan kekuasaan dan kekuatan politik hari ini. Barangkali, ketiga gen z tersebut juga tidak sempat membaca ulasan Pak Alwy ini. Akan tetapi, apa yang ditulis oleh Pak Alwy belasan tahun lalu (2009), dan oleh Alinsky sekitar empat puluh tahun lalu (1972), menemukan relevansi dan praktiknya hari – hari belakangan ini. Kekuasaan dan kekuatan politik dominan “diganggu” dengan cara “jenaka” (komikal) oleh para gen z.

***

Seni dan resistensi, kejenakaan dan ketangguhan untuk bertahan hidup dalam menghadapi perubahan seperti berjodoh. Harari dan Scott seperti punya tambahan konsep dalam merumuskan cara “Sapiens” dan “Kaum Lemah” bertahan dan mencoba menjadi tangguh. Perubahan – perubahan akibat laku kekuasaan dan kekuatan politik dominan seperti berjodoh juga dengan “seni melawan” dan “jalan bertahan” dari masyarakat arus bawah yang senantiasa menolak kalah.

Bagi millennial muda dan gen z, sepertinya “mengolok – olok” dengan cara “jenaka”, komikal dan sedikit “artistik”, boleh jadi adalah cara untuk mengingatkan penguasa dan politisi bahwa “mereka sudah kelewat batas”. Bahkan, boleh jadi sudah “memuakkan” di mata gen z dan para milenial muda.

KL, 17 Oktober, 2023

Sehari setelah putusan MK tentang syarat Cawapres dibacakan.

News Feed