English English Indonesian Indonesian
oleh

Sedekah Pohon

Oleh: Hamdan Juhannis
Rektor UIN Alauddin

Malam Nuzul Qur’an kemarin sempat pulang kampung, Bone. Tujuannnya memenuhi perintah Bapak Pj. Gubernur untuk ikut berpartisipasi pada peringatan Nuzul Qur’an yang dipusatkan di Kabupaten asal saya.

Saya berceloteh di depan para pejabat dan warga tentang pentingnya berbagi. Temanya juga kebetulan tentang “Bahagia Berbagi.” Saya menyinggung keajaiban yang dialami banyak orang dari kebiasaan mereka berbagi. Tidak ada satu kasus-pun orang jatuh miskin karena kebiasaan berbagi. Pernahkah kita mendengar ada orang yang mengalami kesulitan hidup karena kedermawanannya?

Lalu saya mengulas bahwa untuk berbagi dalam hidup begitu mudah dan fleksibel. Pertama, kita bisa berbagi baik secara materi dan non-materi. Berbagi secara non-materi bisa berupa pikiran, pengetahuan, dukungan, ataupun doa. Jadi pada aspek ini, berbagi itu tanpa pakai ongkos.

Berbagi juga berkembang seiring dengan digitalisasi kehidupan. Jadi bisa berbagi dengan memanfaatkan media sosial, misalnya berbagi melalui WA. Tingkatannya-pun bervariasi. Yang paling rendah mengirimkan “emo” senyum saat membalas chat. Di atasnya sedikit, mengirimkan respon berupa kalimat dari chat orang.

Jadi kalau pembaca mengomentari coretan saya, saya anggap itu sebagai berbagi tingkatan kedua. Di atasnya, tingkatan ketiga, bisa dengan mengirim berita-berita yang menggembirakan, termasuk video-video lucu yang membuat hati gembira, syaratnya bukan video lucu tapi menjatuhkan karakter orang lain.

Tingkatan keempat, dengan mengirimkan pulsa atau kuota kepada teman yang dianggap membutuhkan, apalagi misalnya yang suka mengirim tulisan di subuh hari. Dan tingkatan kelima, menggunakan fasilitas internet untuk berbagi kepada yang membutuhkan. Yang akan menerima, cukup mengirim nomor rekeningnya secara online.

News Feed