English English Indonesian Indonesian
oleh

Solusi di Tengah Naiknya Harga Pupuk dan Pakan, Olah Limbah Kulit Kopi Jadi Pakan Berkualitas

FAJAR, POLMAN-Komoditas Kopi di tanah air terus mengalami peningkatan produksi seiring makin tingginya permintaan atas produk perkebunan tersebut. Sebagai konsekuensi dari tingginya produksi kopi, limbah kulit kopi juga terus meningkat. Untuk mengatasi dampak buruk dari limbah kulit kopi tersebut, dosen Unsulbar membimbing para petani mengolah limbah kulit kopi dan kakao menjadi pakan ternak berkualitas.

Dosen Unsulbar, Najmah Ali menjelaskan, ide untuk membimbing petani di desa Kurra’, kecamatan Tapango, kabupaten Polewali Mandar, Sulbar karena berdasarkan berbagai informasi yang diperoleh, petani kopi dan kakao di desa tersebut selama ini baru sebatas memanfaatkan biji kopi dan biji kakao, sementara kulitnya belum diolah, dibuang sembarang tempat yang tentunya dapat mencemari lingkungan.

“Limbah kulit kopi dan Kakao itu berpotensi diolah menjadi pakan ternak berkualitas, juga dapat dijadikan Pupuk Kompos yang memenuhi standar. Dengan teknik pengolahan limbah dipadukan dengan rumput gajah akan menjadi sumber pendapatan tambahan bagi warga desa,” kata Najmah yang juga dosen Nutrisi dan Makanan Ternak, Unsulbar, Minggu, 12 November.

Menurut laporan Statistik Indonesia 2023 dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi kopi Indonesia mencapai 794,8 ribu ton pada 2022.
Khusus untuk desa Kurra’, mampu memproduksi 1 ton kopi per bulan dari areal penanaman seluas 100 hektar.

Tingginya produksi kopi dan kemudian limbah yang dihasilkan, mendorong para dosen Unsulbar bersama dosen Unipa membimbing petani dalam program Kosabangsa (Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat) untuk mengolah limbah kulit Kopi dan Kakao menjadi pakan ternak berkualitas.

Selain Najmah, dari dosen Unsulbar lainnya adalah Syamsiara, Dahniar, sedangkan dari Unipa sebagai pendamping yakni; Prof Budi Santoso, Evi W. Saragih, serta Lukas Y. Sonbait.

Bimbingan pengolahan limbah kulit kopi dan kulit kakao oleh para dosen Unsulbar dan Unipa itu menyasar petani serta istri petani.
Para dosen dibantu mahasiswa Unsulbar membimbing petani di desa Kurra’.

“Petani dan ibu – ibu PKK kita latih dan langsung praktek pembuatan silase, pakan hijauan ternak. Teknologi yang kita gunakan yang mudah dijalankan petani, sistem fermentasi anaerob,” tambah Najmah.

Ia mengaku optimis keterampilan petani mengolah limbah kulit kopi, kulit kakao dipadukan dengan rumput gajah adalah menjadi sumber pendapatan baru, membantu perekonomian warga desa.

Sementara itu, Prof Budi Santoso menyampaikan, apresiasi atas kegiatan pembimbingan petani, mengolah limbah kulit kopi dan kakao menjadi pakan dan pupuk. Limbah (kulit kopi, kulit kakao,-) dibuang sembarangan dapat menimbulkan pencemaran di tanah dan air. “Dengan teknologi ensilase limbah perkebunan seperti kulit kopi dan kakao dapat dijadikan bahan pakan dengan proses ensilase terlebih dahulu,” katanya.

Tim Kosabangsa Unsulbar Pengolahan Limbah Kopi yang diketuai Najmah juga terus mendorong agar kemahiran mengolah limbah menjadi pakan dan pupuk menjadi bagian dari solusi di tengah terus naiknya harga pupuk dan pakan. (*)

News Feed