English English Indonesian Indonesian
oleh

KUINGIN AROMA YANG DULU

OLEH: Risya Marennu

Udara mana lagi kudapatkan seperti dulu, saat-saat saya bersantai di teras rumah dan saat sepulang sekolah. Dengan sejuknya saya menikmati duduk di halaman belakang rumah. Teras maupun halaman belakang rumah, sama-sama sejuknya. Halaman rumahku sewaktu sejak saya kecil ditumbuhi berbagai macam tanaman yang berbuah dengan sangat rimbun. Hal yang sangat saya sukai memanjat pohon jambu sambil menikmatinya di bawah naungan dedaunan yang rindang.  Selain jambu yang saya senangi ada juga pohon sirsak, gersen. Sedang halaman belakang rumah saya, ada banyak pohon pisang dan Nangka. Jika hari raya atau ingin membuat kue tidak perlu ke pasar membeli daun pisang.

Makanan khas Sulawesi khususnya kue tradisional khas Bugis-Makassar lebih banyak menggunakan pelepah daun pisang untuk dijadikan wadah membungkus makanan. Misal kue tradisional barongko, roko-roko unti, lemmek, gogos, burasa, dan masih banyak lagi jenis makanan lainnya. Dengan telatennya Ibuku selalu membuat cemilan saat menjelang sore. Kini setelah kepindahan rumah dan semuanya tak lagi ada, seperti pohon-pohon yang selalu kurindukan. Semuanya harus dibeli di pasar dengan harga yang tidak begitu murah lagi.

Seketika semuanya berubah setelah kepindahanku dari daerah yg disebut kabupaten Gowa yang berada di Sulawesi Selatan ke Ibu Kota Jakarta karena ayah pindah tugas. Banyak hal asing yang kutemui, dan tentu saja dengan berbagai hal perbedaan. Hiruk pikuk ibu kota dengan segala kepadatannya membuatku seketika riweh. Saat hitungan hari di Jakarta, lumayan masih menyenangkan sih, karena Ibu mengajak ke pusa-pusat perbelanjaan yang tentu saja tidak seperti yang kutemui di Makassar. Di Makassar paling hanya pusat perbelanjaan, yang dinamai central, cukup menumpangi angkot yang disebut pete-pete berwarna merah dari arah Gowa ke Central, sudah sampai di tujuan dalam hitungan 20 menit. Di sini sangat berbeda, pusing dengan laju-laju pete-pete yang nyambung sana-sini.

Transportasi di Ibu kota sangatlah berbeda dengan kota asal saya. Ibu saya yang sering menumpangi bus Blok M, membuat jantung saya serasa mau copot dengan laju mobil yang amat kencang. Tapi saat akan berangkat dan sepulang sekolah, sebisa mungkin ayah yang mengantar saya. kalau tidak, yah Ibu saya yang menjemput dengan sambil menenteng adikku yang masih kecil, berusia  sekitar dua tahun.

Lama-kelamaan saya merasa letih dengan semuanya, transportasi yang membuatku harus bangun lebih awal dan pulang lebih telat, teman-teman yang lebih senang bersama circlenya. Lalu saya hanya memiliki dua teman dekat selama setahun bersekolah di sini. Tugas yang lebih banyak daripada yang dulu, persaingan yang mengerikan di sekolah. Semua hal itu menguras tenagaku.

Memasuki kelas 12 SMA, prestasiku menurun karena sering tidak ke sekolah. Awalnya kupikir saya hanyalah sesak biasa lalu Ibu membawaku memeriksa ke RS, ternyata saya mengidap PPOK. Penyakit Paru Obstruksi Kronik, sering absen dari sekolah karena penyakit yang senantiasa kumat dan harus pergi berobat.  Medis maupun non medis. Bukan hanya tenaga terkuras, tetapi mental dan tentu saja perekonomian keluarga. Rumahku yang dulu di Gowa pun telah dijual demi berobat. Itu adalah aset satu-satunya sepeninggal kakek yang diwariskan ke Bapak. Gaji dari seorang polisi itu tidaklah banyak sebenarnya terkecuali perhitungan pangkat dan jabatan atau bisa saja karena bisnis.

Ibuku bertengkar hebat dengan ayah karena ibu meminta pulang Kembali ke Makassar tidak lagi ingin ikut suaminya. Ibu sudah tidak kuat tinggal di ibu kota, dan merasa kebutuhan hidup dan tidak ada keluarga yang menemani setidaknya kalau dikampung, jika ia kemana-mana ada keluarga yang menemani saya di rumah saat sakit atau ketika saat saya mesti di rawat di RS, ada yang menjaga. Ibuku sulit memercayai orang baru kalaupun harus mengambil ART itu pun sangat sulit.

Keinginan ibu yang ingin pulang ke kampung halaman, ia pun wujudkan meskipun memustuskan mereka harus berpisah. Dan saya pun ikut Ibu hingga saya berkuliah di Makassar. Awalnya hari-hari kami berat tanpa ayah, namun setidaknya kami merasa lebih nyaman daripada harus berada di ibu kota yang terasa asing bagi kami. Meski penyakitku juga tak kunjung baik, Ibu selalu berusaha membawaku kesana kemari untuk berobat. Tak kalah banyaknya pengobatan non medis juga kami lakukan. 

Suatu waktu ketika, ada juga yang disebut “orang pintar” dipanggil ke rumah. Orang itu diajak om saya untuk mengobatiku. Dengan rasa keherananku, orang pintar itu mengeluarkan dari kulit dadaku yang sambil membaca mantra tak jelas kudengar, beberapa potongan silet, beberapa helai rambut dan juga pasir yang katanya itu pasir dari tanah kuburan. Tentu saja hal ini membuatku takut dan rasa penasaran juga. Ini nyata dengan mata kepalaku sendiri. Bukan hanya itu, ada juga seperti orang-orangan layaknya boneka seukuran telapak tangan, ada ditemukan di halaman teras rumah setelah dicungkilnya tegel tepat di bawah pintu ruang tamu. Dengan manutnya  ibu menuruti kata-kata orang pintar itu dengan menyiapkan songkolo dan ayam hitam katanya. Dan dengan embe-embel sesajen yang tidak ingin lagi kuingat. Untuk pengobatan medis pun dari dokter yang satu ke dokter lain pun saya datangi. Apalagi bila saya butuh nebulizer.

Saya tak tahu apa yang membuatku berangsur baikan, semuanya bercampur menjadi satu. Yang jelas obat selalu kusediakan di dalam tas saat kuakan bepergian. Itu kejadian beberapa tahun lalu. lalu ketika semuanya kupikir baik-baik saja, tetiba ia muncul lagi bersama El Nino yang bekerpanjangan dan polusi di bulan September ini tepatnya di Jakarta, sesak itu datang lagi bersama derai air yang megucur perlahan dari bilik kelopak mataku yang melihat dia bersama laki-laki lain. (*)

*Risya Marennu merupakan penulis kumpulan Cerpen “Lipstik yang Berdarah” dan pengajar di Sastra Indonesia Unhas

News Feed