English English Indonesian Indonesian
oleh

Belajar Altruisme dari Sang Intelijen

OLEH: Kolonel Sus Andi Muh Darlis, Pusdiklat Bela Negara Badiklat Kemhan

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading dan manusia mati meninggalkan nama (legacy). 

Pepatah itu bisa dilekatkan untuk menggambarkan kisah Sersan Dardjai sang agen intelijen yang meninggal dunia tahun lalu, namun baru beberapa hari terakhir terkuak kisah heroiknya. Jasa Dardjai baru diketahui setelah anaknya membuka lemari peninggalan sang ayah, yang berisi kisah penggalan sejarah perjuangan negeri ini yang mulai dilupakan. Dardjai menyelimuti dirinya dengan kerahasiaan termasuk kepada keluarga sekalipun. Ia meninggal dalam sepi, sama ketika bertugas dalam kesenyapan tanpa meninggalkan warisan, ia meninggal di rumah kontrakannya di Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Dalam konteks intelijen, Sherman Kent, pelopor metode analisis intelijen di Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat, memberikan pemaknaan intelijen sebagai  aktivitas orang yang bertugas mencari bahan keterangan untuk kebutuhan user yang akan digunakan sebagai dasar menyusun strategi. Peran intelijen sangat penting bagi negara karena fungsinya bersifat strategis. Dari perspektif militer intelijen menjadi dasar utama untuk pengambilan keputusan untuk melakukan kampanye militer, deploy pasukan, serangan, dan berbagai rencana lain yang diperlukan untuk memenangkan perang. Berangkat tugas dianggap mati, hilang tidak dicari, berhasil tidak dipuji, gagal dicaci maki dan diinterogasi adalah doktin intelijen yang tertanam kuat dalam benak petugas intelijen. Aktivitas intelijen yang penuh kerahasiaan selalu menyaru di setiap keadaan. Kondisi tersebut dilakoni Dardjai dengan penuh dedikasi dan disiplin tinggi.

Dardjai, sang awanama

Seorang intelijen di manapun berada selalu dalam anonimitas, tidak menginginkan tampilan berupa citra yang sengaja dipoles bak politisi yang berkampanye untuk meraih  suara.  Aktivitas intelijen serba senyap tapi mampu menembus semua lini. Keberhasilan seorang intelijen tanpa pujian, sukses adalah hal yang biasa saja. Petuah Sun Tzu, tertanam dalam benak insan intelijen bahwa “kenali dirimu, kenali musuhmu, seribu pertempuran, seribu kemenangan”, mengharuskan agen intelijen berkubang di daerah lawan. Sebagai seorang prajurit yang dibekali kemampuan khusus dan tugas bersifat spesifik, Dardjai sangat mafhum akan potensi risiko yang dihadapi bahkan nyawa harus menjadi taruhan tetapi itulah moralitas dan integritas seorang intelijen. Ditilik dari kepangkatan, Dardjai hanyalah seorang Bintara namun jasanya besar kepada bangsa yang layak kita apresiasi. Dardjai mungkin hanya dikenal oleh rekan seangkatannya, keluarganya dan orang tertentu saja. Dia baru dikenal ketika nafas terakhinya terhenti, sebuah pengabdian dari seorang anak bangsa yang patut direnungi. Dardjai adalah fenomena kontras di era kontemporer dibalut post truth yang mendistrupsi kehidupan kita.

Sepeninggalnya hanya mewariskan pesan dan kesan melalui sepucuk Carl Gustav M45, seragam yang penuh wibawa keperkasaan sebagai prajurit dan secarik sertifikat yang melukiskan tentang diri dan perjuangannya. Dardjai tidak mewariskan sesuatu yang bisa dikapitalisasi dengan nominal tertentu. Dia tidak seperti pejabat kekinian yang serakah menumpuk harta untuk tujuh turunan meskipun diperoleh dengan cara ilegal. Dardjai mewariskan nilai, etos, moral, integritas, heroism, keteguhan hati dan tentu saja kehormatan yang ke semuanya itu sudah menjadi barang langka di Republik ini.

Kepada siapa kita berteladan

Kita dapat meneladani sosok Dardjai dari sisi loyalitas dan pengorbanannya yang tulus tanpa harap jasa. Profil Dardjai adalah sosok pejuang tanpa pamrih yang sulit ditemukan di tengah kepungan kapitalisme saat ini. Kita mengalami krisis keteladanan, padahal kita sangat membutuhkan sosok pemimpin (negarawan) yang tidak lagi terperangkap  egoisme, kepentingan pribadi dan kelompok. Berharap sosok  sujana yang mampu memersatukan, membangun soliditas bangsa dan berjibaku menciptakan keadilan sosial. Lalu kepada siapa kita berteladan?

Ketika kita kesulitan mencari sosok teladan maka kita perlu mencarinya dalam lembaran-lembaran sejarah kita. Bangsa ini tidak kekurangan contoh teladan yang pernah hidup dan berjuang tanpa pamrih. Bung Hatta, Syafruddin Prawiranegara, Agus Salim, Soedirman, Hoegeng Iman Santoso, M Jusuf, dan yang terakhir adalah Sersan Dardjai. Merekalah mata air keteladanan yang patut kita contoh. Mari membaca sejarah untuk menemukan nilai-nilai luhur yang sudah lama terpendam untuk kita revitalisasi dan mengejawantahkan dalam kekinian. Nilai dan budi pekerti luhur harus dapat dihidupkan kembali sebagai nilai dasar bangsa dalam mengarungi perjalanan kebangsaan. Kita berharap masih ada yang bermental Dardjai  dapat dijadikan titik bidik kompas dalam berbangsa dan bernegara.  Semoga jasanya kepada negara mengantarkannya ke gerbang nirwana. (*/)

News Feed