English English Indonesian Indonesian
oleh

Kenali Gejala Awal Rabies pada Hewan Peliharaan

FAJAR, MAKASSAR– Memelihara hewan tertentu misalnya anjing dan kucing adalah hal yang wajar. Tetapi, para pemilik harus mengenali perubahan sikap hewan tersebut yang bisa saja terjangkit rabies.

Dosen Mikrobiologi, Prodi Kedokteran Hewan Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin, drh. A Magfira Satya Apada mengatakan, penularan rabies berasal dari hewan berdarah panas seperti anjing, kucing, dan kelelawar. Meskipun, yang paling mendominasi ialah gigitan anjing.

Hal tersebut terjadi karena populasi anjing yang tidak terkontrol dan hidup secara liar. Selain itu, gaya hidup masyarakat saat ini yang sangat banyak menggemari anjing sebagai hewan peliharaan.

Ia menjelaskan, ada tiga fase rabies menjangkit pada tubuh hewan. Di antaranya ialah fase prodormal, fase eksitasi, dan fase paralisis.

“Pada fase prodormal itu, dari hewan mulai tergigit sampai menimbulkan gejala itu sebentar, mungkin sekitar dua tiga hari, dan ini gejalanya tidak terlalu spesifik, orang biasanya tidak sadar,” katanya, Kamis, 20 Juli.

Pada fase ini, gejala yang dapat dideteksi pada hewan yang berpotensi rabies ialah penurunan nafsu makan dan bersikap lemas. Fase ini cukup rentan karena gejala itu bisa saja adalah penyakit normal yang biasa menyerang hewan, apalagi jika itu bukan hewan peliharaan atau hewan yang hidup secara bebas di lingkungan masyarakat. Sehingga, masyarakat sekitar bisa lalai.

Selain itu, hewan yang awalnya ramah kepada pemilik maupun orang baru mulai suka bersembunyi dan menghindari orang lain. Kemudian, hewan tersebut selalu mencari tempat-tempat yang gelap dan tidak bising.

“Karena kan rabies ini menyerang sistem saraf pusat, jadi dia lebih sensitif. Di saraf pusat semua ada, mulai dari cahaya, penciuman, dan semua indera. Jadi dia sensitif dan tidak mau lihat cahaya, itu jangka panjangnya. Dia mulai mencari tempat gelap, mungkin di bawah meja, kursi,” ulasnya.

Hewan yang lebih sering berada di kandang atau di dalam rumah peluang terkena rabiesnya jauh lebih kecil. Dibandingkan dengan hewan yang sering berinteraksi dengan hewan lainnya terutama yang hidup secara liar.

“Kemudian anjingnya jadi gampang marah, kalau ada yang provokasi,” tambahnya.

Kemudian masuk pada masa eksitasi, gejala yang tampak mulai jelas. Misalnya, jika melihat cahaya maupun mendengarkan suara berisik sedikit saja, hewan tersebut langsung bereaksi secara berlebihan. Ia juga jadi lebih mudah terprovokasi untuk menggigit dan melompati orang yang ia rasa mengganggu.

“Dia mulai berhalusinasi seperti ada sesuatu di udara yang mau dia ambil. Tidak lagi mau air, dia takut,” tukasnya.

Pada fase paralisis, hewan tersebut sudah mulai lumpuh, tidak bisa makan, mulut berliur berbusa. Hewan tersebut sudah menuju kematian.

Ia mengatakan, pada fase pertama sebaiknya jika melihat hewan dengan gejala demikian maka langsung ditangkap dan dikarantina. Itu dilakukan sebagai bentuk observasi dengan jangka waktu 10 hingga 14 hari.

“Kalau dalam jangka waktu itu tidak muncul gejala seperti fase paralisis, kita lepaskan kembali itu anjing. Tapi dalam waktu 14 hari itu banyak pemicu yang bisa kita berikan untuk menilai responsnya. Misalnya dikasih cahaya atau air dia ketakutan, berarti ada gejala ke sana (paralisis),” urainya.

Ia mengimbau, dengan cara seperti itu para pemilik hewan maupun masyarakat yang mendapati hewan rabies juga bisa tetap menjaga rasa peri kehewanan. Dibandingkan harus langsung membunuh hewan tersebut. Sebab, bagaimanapun jika sudah fase paralisis pasti hewan itu akan mati.

“Sebaiknya jangan disentuh, rabies itu bisa menular jika ada luka gigitan, jadi harus ada luka dulu. Kalau tidak ada luka, kecil kemungkinan kita terkena karena virusnya ada di liurnya,” terangnya.

Namun, ada mukosa pads tubuh manusia yang dapat dilalui oleh virus. Misalnya mata. Kata ia, jika terkena rabies maka bisa fatal. Selain di mata, melalui mulut juga bisa. 

Semakin dekat, area rabies masuk ke dalam tubuh dengan otak, maka tingkat urgensinya lebih besar. 

“Orang yang digigit di lengan, itu prosesnya lebih cepat sampai ke otak dibandingkan orang yang digigit di kaki. Karena jauh jaraknya, sehingga virus itu butuh waktu untuk sampai ke otak,” tukasnya.

Bergantung pada lokasi gigitan hewan rabies tersebut, jangka waktu seseorang pasca tergigit mulai memunculkan gejala ialah antara 5-6 hari, atau bahkan menunggu sampai dua bulan.

“Tidak semua hewan menggigit juga rabies. Karena ada yang namanya provokasi. Bisa saja dia (hewan) tidur-tiduran, tetapi karena kita lewat membawa makanan jadi dia menggigit. Kita kira dia rabies, padahal yang dia incar makanan. Apalagi kalau anjing liar kan makannya tidak menentu,” ulasnya.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulsel, Nurlina Saking mengutarakan, salah satu tantangan para petugasnya di lapangan untuk memberikan vaksinasi adalah hewan liar yang sulit untuk ditangkap. Begitu juga dengan hewan peliharaan yang tidak jinak pada pemeliharanya.

“Karena kan biasa ada yang melakukan pemeliharaan anjing hanya sekedar menjaga (Hewan Penjaga) jadi itu agak sulit untuk ditangkap, kadang ada juga masyarakat yang hiraukan pengumuman yang disampaikan, ada juga masyrakat yang peduli,” paparnya. (uca/*)

News Feed