English English Indonesian Indonesian
oleh

Festival Permainan Tradisional, Kampung Kapurung Ajak Anak Bermain Sambil Berinteraksi Sosial

FAJAR, PALOPO-Kampung Kapurung menggelar kegiatan Festival Permainan Tradisional yang bekerja sama dengan PT CGKN Potenza Palopo (16/7/2023) di Pelataran Masjid Islamic Center Kota Palopo.

Adapun festival ini diadakan merupakan respons atas kerinduan dengan permainan yang mengajarkan bentuk sosial di dunia nyata. Jenis permainan tersebut adalah egrang atau longgak, cukkek, kelereng, lompat karet, congkak/galacang, bekel/garece, balap ban, layang-layang, gobak sodor/galasin/ampang, bom, dan sebagainya.

Peserta yang hadir dalam Festival Permainan Tradisional ini tidak hanya berasal dari Kota Palopo. Namun, beberapa dari daerah Luwu Raya.

Ketua Panitia, Risone Efendi menjelaskan, peserta dalam kegiatan Festival Permainan Tradisional ini ini melampaui dari target yang diharapkan, yakni kurang lebih dari 200 orang.

“Peserta yang hadir tidak hanya dari Kota Palopo, dari daerah Luwu Raya seperti Luwu, Luwu Utara dan Luwu Timur pun ikut hadir. Bahkan, ada pula dari daerah Wajo,” ujarnya. Risone juga menambahkan, kegiatan ini sangat direspons positif oleh penonton yang hadir.

Andi Karman sebagai penanggung jawab kegiatan sekaligus founder Kampung Kapurung, menyampaikan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah mengantarkan peserta supaya paham konsep filosofis setiap jenis permainan.

Salah satunya adalah “gobak sodor” atau “galasin” dalam bahasa Indonesia, sedangkan dalam bahasa orang Luwu menyebutnya sebagai “Ampang”. Galasin memberikan makna bahwa dalam bermain, tidak hanya bergaris persegi dan ada garis di tengahnya, melainkan ada garis segitiga yang ditempati oleh selain orang yang berjaga.

Konsep segitiga adalah simbol orang dari gunung yang menginginkan garam, karena di daerah gunung sulit menemukan garam, sehingga mereka harus ke laut dan kembali membawa garam. Makanya, saat kembali, mereka harus meneriakkan “asin” sambil menggenggam tangannya ke atas.

Di tempat lain, menyebutnya gobak sodor, ada yang menginterpretasinya sebagai saduran dari bahasa Inggris, go back so door. berbagai permainan yang dikenal di Indonesia, ternyata gobak sodor bukan berasal dari Indonesia.

Sejumlah literatur Belanda menyebutkan kata Gobak Sodor diambil dari Go Back Through The Door yang Penyebutan itu berasal dari orang Indonesia yang sulit mengucap dalam bahasa asing sehingga menjadi gobak sodor berarti menembus pintu.

Poin utama dalam setiap permainan mengajarkan bahwa kita boleh bersaing, tetapi tetap dalam kebahagiaan. Selain itu, juga mengajarkan arti dari sebuah perjuangan, seperti permainan engklek atau sunju.

“Kami juga ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya PT CGKN Potenza Palopo yang juga menyediakan hadiah bagi mereka yang menjuarai pada setiap permainan,” jelasnya. (shd/*)

News Feed