English English Indonesian Indonesian
oleh

Boarding School Solusi Alternatif Mendidik Karakter Anak Sejak Dini

Oleh: Dr. Juhri, S.S., M.Hum, Dosen Institut Teknologi dan Bisnis Kalla

Seiring perkembangan zaman dan perkembangan teknologi, saat ini tantangan generasi kita semakin berat.

Tantangan bagi sebagian orang tua yang sudah terlanjur memanjakan fasilitas teknologi tersebut kepada anak-anaknya, tanpa memberikan batas kewajaran dalam penggunaan. Batas kewajaran yang dimaksud adalah sejauh mana teknologi tersebut dapat memberikan pengaruh positif kepada anak-anak, misalnya dalam hal mendukung proses pembelajaran, sebagai alat transfer of knowledge dan hal-hal positif lainnya. Namun yang terjadi adalah justru sebaliknya, alat teknologi tersebut justru membuat anak mager, slow respons, kurang peduli terhadap lingkungan sosial, bahkan sampai kepada kecanduan teknologi gadget melalui game online dan lain sebagainya. Ironisnya anak seusia TK/SD saat ini sudah sangat pintar menggunakan gadget bahkan dapat mengalahkan neneknya.

Selain itu, permasalahan yang sering dihadapi oleh sebagian orang tua adalah lingkungan rumah atau keluarga yang tidak kondusif dan kurang mendukung untuk membentuk karakter anak, misal ibu bapaknya yang sangat sibuk di luar sehingga kurangnya quality time bersama dengan anaknya di rumah, sehingga biasanya terjadi pembiaran, orang tua hanya menyerahkan seluruh urusan anaknya kepada pembantu, membiarkan anaknya dididik oleh seorang pembantu atau sopir yang mengantarnya ke sekolah yang belum tentu mereka dapat memberikan pola asuh atau contoh tauladan yang baik kepada anaknya.

Bukan hanya itu, ada juga sebagian orang tua yang memiliki banyak waktu bersama dengan anaknya di rumah, bahkan di rumahnya tinggal bersama dengan nenek atau kakeknya, akan tetapi pola asuh atau pendidikan yang diberikan adalah manja, kurang disiplin, sering terdengar suara kasar, bahasa kotor, dan lain-lain sehingga karakter anak akan terbentuk sesuai dengan apa yang dialami dan dirasakan sehingga menjadi sebuah kebiasaan buruk.

Nah, bagaimana caranya bisa merubah pola asuh dan kebiasaan tersebut?, jawabannya adalah marilah kita selaku orang tua mencarikan lingkungan yang baru, lingkungan yang lebih kondusif terhadap anak-anak kita yaitu pendidikan yang mampu mengontrol anak-anak kita selama 24 jam yaitu dengan memasukkan program boarding school.

Mengapa harus memilih boarding school sebagai jawaban alternatif untuk mendidik karakter anak-anak kita?, setidaknya ada empat pertimbangan kita memasukkan anak-anak dalam program boarding school, yaitu; pertama, lingkungan yang terjaga dan terkontrol, di boarding school ada pembinaan dari para musyrif / musyrifah, ada peraturan dan standar operasional prosedur (SOP) yang harus diterapkan di dalam lingkungan asrama sehingga peserta didik akan mengikuti bersama peraturan dan SOP tersebut.

Kedua, anak terbiasa disiplin, menerapkan kedisiplinan kepada anak tidak mudah seperti yang dibayangkan, harus ada role model, keberadaan anak-anak di boarding school setidaknya akan mengikuti schedule yang sudah ditetapkan di asrama mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali semuanya diharapkan berjalan dengan tertib sehingga dibutuhkan kedisiplinan.

Ketiga, jiwa sosial, keagamaan, dan kemandirian yang terasah. Lingkungan boarding school yang kondusif diharapkan mampu menumbuhkan jiwa sosial sesama peserta didik dengan beragamnya karakter yang dimiliki oleh masing-masing anak,tentu ada anak yang memiliki kepedulian sosial sesama temannya, dan hal tersebut tentu dapat memberikan pengaruh positif kepada teman-temannya yang lain. Begitupun juga dari segi perkembangan  keagamaan, ketika ada satu atau beberapa siswa yang sudah rajin salat berjema’ah, rajin menghafal, dan murojaah hafalannya, maka secara tidak langsung siswa yang lain akan termotivasi, begitupun dari segi kemandirian, sebuah pengalaman yang biasa kita rasakan bahwa biasanya anak kecil itu ketika ditinggal oleh orang tuanya maka ada kecenderungan memiliki tingkat kemandirian lebih tinggi dibandingkan ketika orang tuanya bersama dengan anaknya.

Keempat, kurikulum yang terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari. Pendidikan di asrama merupakan kurikulum kehidupan nyata dalam keseharian bagi seluruh peserta didik,mereka tidak hanya diajarkan materi keislaman yang bersifat kognitif akan tetapi tentu akan mengintegrasikan dalam bentuk psikomotorik dan afektif sebagai contoh, misalnya ketika anak-anak belajar atau menghafal hadis tentang adab makan dan minum, maka mereka langsung mempraktekkan ketika makan siang, atau makan malam bersama dengan teman-temannya, karena temannya sendiri akan menegurnya ketika ada yang didapat makan sambil berdiri, itulah sebagian bentuk kurikulum kehidupan di lingkungan asrama.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana memilih pendidikan yang menerapkan program boarding school untuk anak sekolah dasar dan dimana? Program boarding school untuk tingkatan sekolah dasar (SD) saat ini masih sangat langkah bisa kita temukan khususnya di Makassar ataupun di Sulawesi Selatan pada umumnya. Namun, seiring dengan perkembangan waktu kini telah hadir satuan pendidikan yang menawarkan konsep pembelajaran boarding school atau yang dikenal dengan istilah sekolah berasrama pertama di Makassar untuk tingkatan SD yaitu SD Islam Athirah Racing Centre yang beralamat di Jl. Prof. Abdurahman Basalamah, No. AA5 (Depan kampus Unifa Makassar).

Sekolah tersebut memberikan fasilitas pendidikan berasrama yang nyaman dan aman untuk anak-anak kita sejak usia SD minimal anak usia kelas 3 (tiga), mengapa harus memilih sekolah tersebut? Ada beberapa alasan yang seharusnya menjadi pertimbangan memilih sekolah tersebut yaitu; antara lain ; pertama, memiliki program unggulan yaitu program tahfidz Al Qur’an 10 Juz dan hafal 130 Hadis shahih, pendalaman pemahaman keislaman (aqidah akhlak, fikih, sirah, hadis, dan tafsir), pembiasaan berbahasa Arab dan Inggris di lingkungan asrama, dan pembinaan karakter, kedua, memiliki fasilitas penunjang antara lain ; kamar asrama full AC kamar mandi dan WC yang bersih dan nyaman, mushola, kantin, ruang kesehatan, area bermain dll, ketiga, memiliki pengawasan keamanan 24 jam, keempat, memiliki tenaga pendidikan yang berkompeten, bertanggung jawab, asyik, kreatif, dan inovatif, kelima, memiliki kegiatan yang membentuk dan menumbuhkan leadership peserta didik.

Oleh karena itu, bagi orang tua yang tidak memiliki banyak waktu untuk mendidik anak-anak di rumah, atau bagi orang tua yang sudah terlanjur memanjakan alat teknologi (gadget) kepada anak-anaknya dan tidak lagi dapat mengatasi permasalahan tersebut, ataukah tidak mampu menjadi uswatun hasanah di lingkungan keluarga, alangkah baiknya kalau mencarikan suasana baru yang jauh lebih kondusif dengan lingkungan rumah yaitu boarding school. (*)

News Feed