English English Indonesian Indonesian
oleh

Tanah Datar dengan Taraf Kebahagiaan Berkelas Dunia

Oleh: Hafid Abbas, Guru Besar UNJ

Sungguh satu kebahagiaan, saya dapat menyaksikan ”Festival Sumpah Satie Bukit Marapalam” Tanah Datar pada 17-18 Juni 2023 lalu. Sumpah “adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah” yang telah dikrarkan oleh para pemuka adat dan ulama di Bukit Marapalam sekitar empat abad silam (1644) merupakan tonggak sejarah baru perjalanan kehidupan sosial budaya dan agama bagi masyarakat Minangkabau yang menandai berakhirnya segala pertentangan antara budaya dan agama.

Kesepakatan damai di Bukit Marapalam itu sesungguhnya  adalah warisan budaya (cultural heritage) bangsa yang tidak ternilai sebagai pembelajaran yang amat berharga dari generasi  ke generasi.

Mungkin disengaja atau tidak, festival ini diselenggarakan pada hari bersejarah bagi PBB karena terselenggara hampir bertepatan (historic co-incident) dengan suasana ketika PBB bersidang pada 28 Juni 2012 yang menetapkan Hari Kebahagiaan Internasional (United Nations International Day of Happiness), 20 Maret.

Jika melihat laporan PBB (World Happiness Index 2022), dari 146 negara, tiga negara paling bahagia di dunia; terbebas dari korupsi, damai, sejahtera, adil dan beradab adalah Finlandia dengan skor 7,84, kemudian disusul Denmark (7,62) dan Swiss (7,57) di urutan ketiga.  Sebaliknya yang paling sengsara adalah Afghanistan di urutan terendah 146 (2,5), Malaysia di peringkat 79 (5,38) dan Indonesia di urutan 80 (5,38).

Yang menarik adalah Finlandia yang sudah enam kali berturut turut berada di peringkat teratas sebagai negara paling bahagia di dunia menurut kriteria PBB.

Ternyata kriteria itu juga tumbuh dalam khasanah nilai-nilai masyarakat Minangkabau.

Pertama, masyarakat Finlandia lebih mementingkan bekerjasama dibanding dengan bersaing. Nilai-nilai itu ditanamkan sejak dini di jenjang pendidikan dasarnya. UNESCO mengangkat model pendidikan Finlandia sebagai kasus. Finish education model is encapsulated in its values of neither giving homework to student everyday nor conducting regular tests and exams. Instead, it is listening to what the kid want and treating them as independent thinkers of society (UNESCO, 2018).

Anak-anak Finlandia amat bahagia menjalani pendidikannya karena tidak dipaksa untuk bersaing, tapi mereka diberi kesempatan bekerjasama, bermain lebih lama atau bersama keluarga.

Gaji guru-gurunya pun rata-rata 30% lebih tinggi dari tenaga kesehatan.

Finlandia telah tercatat sebagai negara dengan mutu terbaik pendidikannya di dunia (weforum, 10/09/2018). Filosofi pendidikannya yakni memberinya kebahagiaan mengembangkan segala petensi anak secara maksimal sesuai dengan kemampuannya.

Filosofi dan model pendidikan seperti itu, juga tumbuh di sekolah-sekolah di Minangkabau jauh sebelum Indonesia merdeka. Lihatlah misalnya: Perguruan Diniyah Putri (1923); Sekolah Adabiah (1909); Indonesisch-Nederlandsche School-INS Kayu Tanam (1926); Darul Funun (1854);  Madrasah Tarbiyah Islamiah Canduang (1928); Perguruan Thawalib (1900); dsb.

Filosofi pendidikan di tanah Minang dibingkai dengan nilai-nilai “Alam Takambang Jadi Guru” yang berarti segala sesuatu yang ada di alam raya dapat dijadikan guru.  Perguruan Dar-el-Funoon misalnya, mengelola kegiatan pendidikannya di berbagai jenjang dan jenis yang berasaskan pada “keragaman, seni, dan ilmu pengetahuan” sesuai dengan makna Dar-el-Funoon (Arab).

Dengan model pendidikan yang mengakar di masyarakat, sekolah-sekolah seperti inilah yang telah melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa, seperti Bung Hatta (Proklamator), Imam Bondjol, Tan Malaka, Syahrir dan sejumlah pahlawan nasional pendiri bangsa. Bahkan, Perguruan Adabiah di Padang telah melahirkan alumni seperti: Mr Assaat (Presiden Republik Indonesia Serikat); M Natsir (Perdana Menteri Indonesia Serikat); Armijn Pane (Pujangga); Lili Roesad, Tarmizi Tahir, Azwar Anas, Hasjim Ning,  dst.  Demikian juga Perguruan Diniyah Putri di Padang Panjang telah melahirkan alumni sekaliber Rasuna Said, (Anggota DPA setelah Dekret Presiden 5 Juli 1959), dst.    

Dengan nilai-nilai dan kekuatan sumberdaya insaninya, ekonomi masyarakat Minangkabau tumbuh dengan kebersamaannya sehingga terproteksi dari dominasi ekonomi  dan penguasaan kekayaan alamnya dari pihak luar. Di sini tidak ada jaringan Alpamart dan Indomart, atau sejenisnya yang dapat menghancurkan keberadaan pasar-pasar tradisionalnya.  

Kedua, masyarakatFinlandia memiliki tingkat kesenjangan sosial yang amat rendah, taraf kesejahteraan merata. Keadaan ini mirip dengan struktur kehidupan sosial ekonomi Tanah Datar.  

Daerah ini memiliki luas wilayah 133.600 Ha (1.336 km per segi) dengan jumlah penduduk 374.431 jiwa BPS, 2021), merupakan daerah agraris, lebih 70% penduduknya bekerja pada sektor pertanian. Penduduknya yang dikategorikan miskin tersisa 14,9 ribu (3,9%). Ini jauh lebih rendah dibanding dengan angka kemiskinan di Sumbar sebesar 6,04% dan di tingkat nasional 9,57% (BPS, 2022)

Data BPS (2022) memperlihatkan bahwa meski Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tanah Datar (73,29), kelima tertinggi di Sumbar, berada setelah Padang (83,29), Bukittinggi (81,42), Payahkumbu (79,53), Solok (79,23), dan Pariaman (77,68), tetapi masih lebih tinggi dari IPM rata-rata nasional  (72,91).

Ketiga, masyarakat Finlandia dapat menikmati waktu sengganggnya dengan beragam keindahan alamnya. Warga Helsinki misalnya, dalam hitungan menit, dapat bersama keluarga ke taman-taman kota, atau ke pulau terdekat. Di negara ini terdapat lebih 40 national parks sebagai taman rekreasi untuk melayani seluruh warganya yang berjumlah 5,6 juta (2022).

Mirip dengan Finlandia, Tanah Datar juga memiliki sejumlah keindahan alam yang mempesona. Di puncak Bukit Marapalam, dapat disaksikan deretan bukit dengan hutan lebat yang menyelimutinya, terlihat pula Danau Singkarak dengan keindahannya yang menakjubkan. Semua ini adalah surga bagi kehidupan  aneka ragam spesies flora dan fauna, termasuk berbagai jenis burung yang berhabitat di kawasan danau yang terbentang seluas 107,8 km per segi, hingga ke Solok. Semua ini adalah warisan alam (natural heritage), aset sosial ekonomi dan budaya yang telah mengangkat taraf kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat Tanah Datar.

Hal yang lebih mengagumkan lagi, di sini terdapat satu desa yang dinilai oleh Budget Travel Amerika Serikat (2012) sebagai salah satu desa terindah di dunia yakni Pariangan yang disejajarkan dengan desa Wengen di Swiss, Eve di Prancis, Niagara di Kanada, Cesky Krumov di Ceko (ksmtour.com).  

Keempat, Finlandia tercatat sebagai negara sangat aman. Dalam kehidupan masyarakatnya sehari-hari, sepanjang tahun tidak merasakan adanya gangguan keamanan.

Jika dibanding dengan daerah-daerah lain di tanah air, Tanah Datar termasuk di kategori sangat aman. Data kasus kejahatannya pada 2022 berjumlah 284 atau 23-24 kasus sebulan (BPS, 2022), jauh di bawah rata-rata provinsi sebanyak 369 setahun, terlihat 5,4 kali lebih aman dibanding Padang, atau 157,1 kali lebih aman dari Jakarta dengan 44.461 kasus kriminalnya pada 2020 (kompas, 27/01/2022).

Terakhir, Finlandia memberi layanan kesehatan dan pendidikan gratis di semua jenis, jenjang dan jalur pendidikan.

Sayang sekali, ketika saya berkunjung ke sekolah-sekolah yang sudah berusia lebih seabad itu di Sumbar, terlihat fasilitasnya amat terbatas karena negara seakan tidak hadir memajukan mereka. Gaji guru-guru mereka rata-rata hanya berkisar Rp 500 ribu hingga satu juta sebulan jika mengajar 10 hingga 20 jam seminggu. Amat kontras jika dibandingkan dengan betapa besarnya jasa mereka pada negara yang telah melahirkan sejumlah tokoh-tokoh besar pendiri bangsa.

Sekedar perbandingan, meski Sumbar (42,1 km per segi) terlihat 57 kali lebih besar dari Singapura (734,3 km per segi), namun keadaan sekolah-sekolah Singapura, umumnya punya halaman luas, bangunannya standar, lengkap dengan lapangan bola, lapangan basket. Jendela ruang-ruang kelas siswa berukuran besar-besar dan dirancang sedemikian rupa agar menghadap ke lapangan atau taman. Di depan kelas koridornya juga lebar-lebar, ada taman untuk pelajaran sains, ruang multimedia, komputer, ruang dokter, psikolog, perpustakaan, kantin, dan aula pertemuan. Di setiap kelas ada locker untuk masing-masing anak, jadi buku-buku pelajaran bisa disimpan di sana jika tidak ingin buku-buku itu dibawa pulang.

Semoga pemerintah pusat dan daerah dapat segera menyelamatkan sekolah-sekolah bersejarah ini sebagai warisan peradaban bangsa kedepan.

Ternyata tidak salah jika Gatot Nurmantiyo di ”Festival Sumpah Satie Bukit Marapalam” menuturkan Tanah Datar sebagai daerah yang sarat dengan warisan budaya, warisan alam, dan warisan sejarah yang harus terawatt abadi.

Pantas jika warganya menikmati kebahagiaan hehidupan berkelas dunia.  (*)

News Feed