English English Indonesian Indonesian
oleh

The Smiling General

Tapi ada yang mengganggu untuk mengakhiri celoteh saya tentang senyum. Teman-teman pembaca banyak membuat tipe senyum yang mungkin perlu dibicarakan ulang. Misalnya, Andi Amri, CEO BHS, menurutnya ada istilah “senyum tingkat dewa,” bermakna seseorang itu masih bisa tersenyum saat berada di puncak kemarahan. Ada juga katanya yang disebut “senyum misterius,” makna dari senyumannya tidak bisa tertebak.

Teman ini lalu membahas contoh senyum misterius, senyumnya Monalisa, pada lukisan itu. Saya sendiri sering melihat photo lukisan itu di media, tapi tidak pernah memperhatikan apakah Monalisa tersenyum atau tidak. Mungkin karena keaslian lukisan itu misterius, jadi semua tentangnya menjadi misterius.

Kata Neurolog, senyum tidak simetrisnya Monalisa karena pada wajahnya ada gangguan saraf. Andai bisa bertemu dengan Leonardo da Vinci, dia bisa juga berdalih bahwa Monalisa tersenyum pada dirinya karena bahagia dilukis. Atau silakan pembaca mengecek lukisan Monalisa, siapa tahu bergerak bibirnya dan tersenyum pada anda? Namanya misteri.

Memang dalam tradisi dikenal ragam senyum. Ragam itu muncul dari pengalaman menghadapi eksperesi senyum setiap orang di berbagai ruang dan waktu. Jadinya kita bisa paham yang mana senyum tulus dan yang mana senyum diurus, yang mana senyum manis dan yang mana senyum sinis. Kita perlu mengilmui senyum, supaya bisa mengimani senyum. Karena kata seorang teman, senyum tulus tidak perlu dipikirkan. Ciri senyum tulus terdapat pada spontanitasnya. Kapan dipikirkan baru menebar senyum, itu sudah pasti tidak tulus, itu namanya senyum rekayasa. Karenanya, senyum tulus adalah bagian dari iman, senyum rekayasa masih sebatas ilmu. Ngomong-ngomong, saya belum tersenyum sejak bangun.

News Feed