English English Indonesian Indonesian
oleh

Pemilih Perempuan di Sulsel Dominasi, Partisipasi Aktifnya Dibutuhkan

FAJAR, MAKASSAR – Sulawesi Selatan menjadi salah satu daerah dengan jumlah pemilih perempuan lebih dominan dibanding laki-laki. Berdasarkan data KPU Sulsel, selisihnya mencapai angka 181.276 pemilih.

Ketua KPU Sulsel Hasbullah menegaskan, dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) jumlah pemilih perempuan mencapai 3.425.900. Sementara pemilih laki-laki 3.244.626.

“Jadi selisihnya 100 ribu lebih, hampir 200 ribu. Artinya bukan jumlah tipis, itu banyak. Kami berharap partisipasi perempuan juga dalam pemilu bisa jauh lebih besar seperti jumlahnya,” ujarnya, kemarin.

Pada saat Bimtek KPPS, pihaknya melakukan monitoring di Kabupaten Soppeng dan Bone. Di sana, hampir semua kecamatan didominasi oleh pemilih perempuan.

“Malah ada yang secara akumulasi, jumlah pemilih perempuan itu ada yang sampai 90 persen. Itu di dua desa. Makanya partisipasi aktif perempuan dalam Pemilu ini saya apresiasi, itu luar biasa. Mudah-mudahan ini positif untuk keikutsertaan perempuan dalam ruang politik kita,” kata dia.

Dia juga mengatakan, perempuan yang selama ini kerap dianggap punya relasi kuasa yang tidak menguntungkan di ruang domestik, justru punya peran besar. Termasuk dalam rumah tangga.

“Di Bone juga begitu. Makanya saya konfirmasi langsung ke Kabag SDM untuk mencoba menarik itu. Dan memang datanya menunjukkan lebih banyak perempuan,” ungkapnya.

Sementara Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK) mencatat, jumlah pemilih perempuan pada Pemilu 2024 mencapai 102,58 juta atau 50 persen dari total jumlah pemilih.

Direktur SPAK Indonesia, Maria Kresentia menegaskan, suara perempuan bisa menjadi pintu masuk perjuangan terbangunnya wajah politik, demokrasi dan pemerintahan Indonesia. Agar berpihak pada kepentingan perempuan, anak, disabilitas dan kelompok marjinal lainnya.

”Jangan berpikir apalah artinya satu suara. Setiap suara penting untuk masa depan Indonesia, masa depan negeri, maka jangan jual kita dengan apapun. Lorong waspada, jual beli suara lewat politik uang bisa terjadi, bahkan sesaat sebelum kita masuk bilik suara,” tegasnya.

Sementara Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Mike Verawati meminta, perempuan juga harus mempelajari latar belakang calon sebelum menentukan pilihan. Termasuk perilaku masa lalu para kandidat karena bisa terulang di masa depan. ”Pelajari dengan teliti calon pemimpin, tentukan pilihan pada mereka yang jelas rekam jejak, visi-misi dan programnya,” tegasnya. (wid/ham)

News Feed