English English Indonesian Indonesian
oleh

Pakai Ayat Mengemis Iba

Situasi ini terlihat lantaran upaya pemerintah dalam penanganan masih belum maksimal. Padahal, fakir miskin harus dipelihara dan ini telah dimuat dalam undang-undang.

Kenyataannya, peran negara masih jauh dari kata maksimal. Umat Islam pun bertanggung jawab dalam menyantuni mereka.

“Saya kira kalau dioptimalkan Baznas dan lembaga zakat, sangat perlu diprogramkan. Mesti dilokalisasi dengan penghidupan layak bahkan mereka anak yatim-piatu dan sangat kurang mampu,” katanya.

Seperti Muhamadiyah, kata Nurdin, ada wadah berdasar panti asuhan dengan menampung anak yatim-piatu dan semacamnya. Mereka tidak lagi mudah berkeliaran, sebab kuatnya pemahaman agama yang benar.

Manfaatkan Religiositas Warga

SEJATINYA membaca Al-Qur’an adalah ibadah privat. Tak perlu menonjolkan diri di depan publik jika memang niatanya untuk pahala.

Sosiolog Unhas M Ramli AT mengatakan fenomena membaca ayat Al-Qur’an untuk mendapatkan iba di jalan, tetap masuk kategori mengemis. Jelas bagi agama Islam, membaca Al-Qur’an itu bukan untuk mendapatkan simpati/rasa kasihan dari sesama manusia. Terlebih untuk keuntungan materil dari manusia lain.

Jadi itu bisa dilihat sebagai upaya untuk mendapatkan simpati, berdasarkan anggapan bahwa masyarakat adalah masyarakat religius. Biasanya mudah bersimpati atau memberi penghargaan pada mereka yang dinilai memiliki kemampuan menjalankan agama secara baik.

Satu di antaranya adalah kemampuan membaca atau menghafalkan Al-Qur’an. Menurutnya, ada upaya menjadikan aktivitas keagamaan atau penampilan religius untuk menarik simpati dan mendapatkan sumbangan di tempat publik.

News Feed