English English Indonesian Indonesian
oleh

Perilaku Sosial Beragama

Pola dakwah Islam oleh ulama terdahulu senantiasa mengedepankan pendekatan kultural, apalagi masyarakat yang masih primitif ataupun terbelakang serta senantiasa terpengaruh dengan arus perubahan yang dibawa orang lain. Islam keIndonesiaan yang berkemajuan adalah Islam yang tidak memusuhi ataupun memberangus budaya yang ada. Justru budaya setempat diakomodir dan dilestarikan selama tidak bertentangan dengan aturan atau syariat Islam yang santun, ramah, beradab dan berbudaya.

Adapun konsep Perilaku Sosial Beragama, Ritzer (2007) menguraikan tiga macam paradigma yang secara fundamental yakni: paradigma fakta sosial, paradigma definisi sosial, dan paradigma perilaku sosial. Paradigma fakta sosial menekankan bahwa fakta sosial adalah sesuatu yang riil dan memiliki realitas tersendiri. Paradigma ini diwakili oleh Durkheim selama tahap perkembangan sosiologi klasik dan fungsionalisme struktural dan teori konflik dalam teori sosiologi modern.
Paradigma definisi sosial menekankan hakekat kenyataan sosial yang bersifat subjektif lebih dari pada eksistensinya yang terlepas dari individu. Paradigma definisi sosial mengartikan sosiologi sebagai ilmu yang berusaha untuk menafsirkan dan memahami (interpretative understanding) tindakan sosial.

Dengan demikian, paradigma ini sangat menekankan arti subjektif dari tindakan sosial. Paradigma ini diwakili oleh Max Weber selama tahap perkembangan teori sosiologi klasik. Paradigma perilaku sosial memusatkan perhatiannya kepada hubungan antara individu dan lingkungannya. Menurut paradigma ini, pokok persoalan dalam sosiologi adalah tingkah laku individu. Lebih lanjut paradigma ini menekankan pendekatan objektif empiris terhadap kenyataan sosial dan data empiris mengenai kenyataan sosial hanyalah perilaku-perilaku individu yang nyata. Paradigma ini diwakili antara lain oleh sosiologi perilaku (behavioral sociology) dan teori pertukaran sosial.

News Feed