English English Indonesian Indonesian
oleh

Kedekatan MWA dan Mendikbud Penentu Pilrek Unhas

Pengamat Komunikasi Politik Unhas Attock Suharto, mengatakan, karakter calon akademisi tulen hanya ada pada Prof Budu. Sementara Prof Jamaluddin Jompa merupakan seorang organisatoris sehingga tidak murni akademis lagi. Sama halnya Prof Farida.

Pengamat Politik Unhas, Ali Armunanto, mengemukakan, kandidat yang dekat dengan MWA, dinilai yang paling berpotensi dipilih. Dia mengatakan dari analisisnya, dirinya lebih berat jika suara menteri bakal didistribusikan secara merata ke para calon.

Sebagaimana diketahui, suara menteri memiliki 35 persen suara atau jika dinominalkan maka totalnya 6-7 suara. “Selanjutnya, yang paling dekat dengan MWA-lah yang paling menentukan,” kata Ali.

Maka dari itu, kedekatan pada anggota MWA seperti gubernur Sulsel, Ketua MWA dan anggota hingga yang paling muda Ketua BEM menjadi sasarannya. “Artinya siapa yang paling bagus hubungannya dengan MWA maka itulah yang terpilih,” tekannya lagi.

Meski ia menilai itu merupakan skenario terburuk. Namun, tidak menutup kemungkinan ada calon favorit dari kementerian. “Berbeda dengan Prof Dwia yang dulu dekat dengan pak Jusuf Kalla dan berteman baik dengan Ketua MWA saat ini yakni pak Syafruddin,” ucapnya.

Di samping, Ali tidak menampik, misalnya Prof Farida memiliki kedekatan dengan Menteri Syahrul dan apakah bisa memastikan bisa menjadi titik tekannya tanpa meragukan kapasitas Syahrul.

Suara Menteri

Pengamat Politik Unhas lainnya, Sukri Tamma menjelaskan suara menteri menjadi prerogatif menteri, apakah mau mendistribusikan kepada masing-masing calon atau punya pilihan tersendiri.

News Feed