English English Indonesian Indonesian
oleh

KONTROVERSI! Hari Kasih Sayang Bukan Milik Agama Tertentu

“Dalam kebudayaan, kita saling memberi. Orang akan diberikan sesuatu dalam bentuk benda, sikap dan perlakuan, pasti akan mendapatkan respons,” jelasnya.

“Kalau kita maknai kasih sayang itu dengan konteks ajaran dan nilai kebudayaan kita masing masing, ya welcome aja. Masa kita mau melarang orang menyayangi,” tambahnya lagi.

Yang patut menjadi polemik adalah ketika interpretasi hari kasih sayang mengarah ke ranah negatif. Diperingati berlebihan dengan mengabaikan norma agama dan budaya yang berlaku.

“Misalnya bagi-bagi kondom atau pesta seks di hotel. Kalau kita berbagi coklat atau misalnya saya kasih pulpen atau apa pun yang berharga, why not,” ujarnya.

Jangan Batasi Hari,
Tunjukkan Tiap Saat

KASIH sayang mestinya tiap saat. Mesti dilakukan kontinyu, tak hanya sehari.

Pakar Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM) Novita Djalal mengatakan kasih sayang adalah kebutuhan utama dalam kehidupan manusia. Fondasi dalam kepribadian seseorang, serta berdampak sangat besar dalam kehidupan.

“Sama halnya dengan makan dan minum, kasih sayang menjadi hal yang dibutuhkan oleh makhluk hidup karena dengan kasih sayang seseorang akan menjadi hangat untuk dirinya sendiri dan untuk orang lain,” katanya, kemarin.

Kasih sayang juga harus ditunjukkan dengan frekuensi yang intens, bukan sekali dalam setahun. Hal ini akan berdampak positif pada diri sendiri dan orang yang kita sayangi.

“Kasih sayang alangkah lebih baiknya jika ditunjukkan lebih sering, bukan secara berkala dengan artian fitrahnya kasih sayang itu ditanamkan dan ditampakkan dalam keseharian,” tambahnya.

News Feed