English English Indonesian Indonesian
oleh

Olahraga dan Nasionalisme Pemuda

OLEH: Ahmad Susanto, Ketua KONI Makassar

40 tahun sebelum dunia pertama kali menerima kabar Kemerdekaan Republik Indonesia, kaum muda pribumi kita telah mendaulatkan dirinya sebagai manusia yang merdeka dan sejajar melalui panggung olahraga.

Itu ditandai dengan lahirnya kesebelasan Sepak Bola tertua di Hindia Belanda yaitu Macassaarsche Voetbal Bond (1915) yang di kemudian hari tercatat sebagai embrio PSM, klub sepak bola kebanggaan orang Sulawesi Selatan. Pada rentang masa hingga sekitar 1926-1940, MVB sudah melakukan pertandingan dengan beberapa kesebelasan dari dalam maupun luar negeri. Artinya, olahraga bisa mendobrak batas-batas relasi kuasa. Sekat antara terjajah dan penjajah itu menjadi kabur. Bahkan ada kesetaraan yang dihadirkan oleh kaum muda sebagai aktor. Lapangan hijau mampu dimanfaatkan menjadi media legitimasi bagi eksistensi sebuah komunal besar yang di kemudian hari bernama Indonesia. Begitulah kaum muda memanfaatkan olahraga.

Menurut Frey & Eitzen, (1991), Olahraga merupakan aspek dari kehidupan sosial yang sangat penting. Olahraga memiliki andil besar dalam proses sosialisasi seseorang untuk menjadi warga negara yang baik. Olahraga adalah aktivitas yang dibutuhkan untuk pergaulan yang sehat, dan keterlibatan seseorang dalam olahraga membantu membentuk karakter, perkembangan moral, orientasi pada tim dan jiwa kompetitif, sikap kewarganegaraan yang baik, dan sifat-sifat baik lainnya. Dan apa yang telah dilakukan MVB dengan sepak bolanya adalah sesuatu yang tentu harus kita lihat, tidak hanya sekadar permainannya saja. Tapi juga menyelipkan efek yang politis meskipun mungkin para personil MBV tidak berpikir ke arah itu. Mungkin.

Olahraga sebagai Media

Ihwalnya, olahraga adalah sebagian besar merupakan aktivitas sehari- hari di waktu senggang dan tentu saja dapat dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja tanpa pandang usia. Yang kemudian berkembang menjadi berbagai ragam pilihan olahraga hingga saat ini. baik itu olahraga yang biasa hingga yang ekstrem. Namun berbicara pentas formal dari level lokal, nasional, hingga level dunia tentu saja memiliki aturan- aturan, salah satunya adalah batasan usia. Dan sekali lagi disitulah pintu masuk kaum muda mengibarkan nasionalismenya melalui prestasi. Meskipun olahraga ihwalnya muncul dan kemudian dilakukan demi kesenangan, tapi nilai nilai Olimpisme menyebutkan bahwa olahraga seharusnya memiliki nilai visioner value (tujuan jangka panjang), mutual understanding value (saling memahami) serta friendship value (persahabatan) serta bebas dari kepentingan dan keterlibatan tujuan- tujuan politik.

Namun dalam perkembangannya, olahraga bertransformasi menjadi ruang bergengsi. Semakin tinggi levelnya akan semakin besar pula nilai kebanggaan yang dapat menggaung. Pada level nasional hingga dunia, fenomena nasionalisme olahraga menunjukkan bagaimana olahraga dan kepentingan politik saling berhubungan erat. Olahraga sering dijadikan alat pemerintah suatu negara untuk membangun dan mengobarkan semangat nasionalisme. Dalam tubuh olahraga diinjeksikan jiwa nasionalisme sebagai motivasi para olahragawan dan atlet. Pada akhirnya. Olahraga harus kita akui memiliki kontribusi yang sangat besar bagi pembentukan identitas nasional dan rasa nasionalisme sekaligus memiliki energi yang sangat besar untuk menghilangkan perbedaan- perbedaan di antara masyarakat dalam sebuah pertandingan. Dalam olahraga, solidaritas terbangun pada semua pihak mulai dari atlet sampai penonton bersatu padu.

Nasionalisme kaum muda

Jika nilai olimpisme kita tarik jauh lebih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Maka tentu saja akan sangat baik. Semangat Visioner, Mutual Understanding, dan Friendship mungkin terdengar sangatlah sederhana. Namun nilai- nilai itulah yang sesungguhnya diintisarikan dalam semangat gotong royong yang telah diajarkan oleh leluhur kita sejak masa lalu. Tanpa tiga nilai itu. Mungkin kita hanya akan menemukan nasionalisme semu (Pseudo nationalism).

Rasa nasionalisme dari perspektif politik dalam sejarah kita, banyak dicontohkan oleh kaum muda. Mulai dari semangat Kebangkitan Nasional dilanjutkan dengan Sumpah Pemuda, hingga gerakan visioner kaum muda yang menghendaki kemerdekaan yang benar- benar berdaulat dan atas inisiasi sendiri dan bukan mengesankan sebagai hadiah dari kaum penjajah tercerminkan dalam gerakan Rengasdengklok.

Dalam konteks ke-Indonesiaan, nasionalisme yang mendasarkan diri pada nilai – nilai kemanusian (perikemanusiaan) yang hakiki dan bersifat asasi, untuk saling mengangkat harkat martabat untuk hidup bersama secara adil, damai dan setara tanpa harus ada diskriminasi di dalam sosial. Sedangkan semangat nasionalisme yang diartikan sebagai suasana batin yang melekat dalam diri setiap individu sebagai pribadi maupun sebagian bagian dari bangsa dan negara, yang diimplementasikan dalam bentuk kesadaran dan perilaku yang cinta tanah air, kerja keras untuk membangun, membina dan memelihara kehidupan yang harmonis dalam rangka memupuk dan memelihara persatuan dan kesatuan, serta rela berkorban harta, benda bahkan raga dan jiwa dalam membela bangsa dan negara.  

Nasionalisme Vs Fanatisme

Mens Sana in Corpore Sano, pepatah ini tentu sangat familiar bagi kita. Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat begitu kira- kira terjemah bebasnya. Ini mungkin dapat kita jadikan harapan atau bahkan do’a yang baik untuk kita yang saat ini bergelut dan menghibahkan diri untuk mengurusi dunia olahraga. Seharusnya, kesejatian kita berolahraga tidak hanya berharap diraihnya prestasi gemilang yang dapat membanggakan kita. Dengan adanya pembinaan- pembinaan yang terstruktur dan sistematis yang telah kita lakukan pada generasi muda. Kita tentu berharap akan lahir generasi-generasi hebat yang bermental kuat dengan ketebalan rasa nasionalisme yang tidak diragukan lagi. Lewat olahraga juga kita berharap tercipta solidaritas nasional yang tidak mudah digoyahkan oleh kepentingan eksternal. Sebuah sikap yang terpupuk sejak dini dan akan terus tersambung mata rantainya dari generasi ke generasi. Jangan malah sebaliknya.

Dalam hal ini, kita harus menyamakan bersepakat bahwa Nasionalisme berbeda dengan fanatisme. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, suatu sikap Nasionalisme yang wajar ialah sikap seseorang yang mempunyai kepedulian yang lebih terhadap negaranya ataupun daerah dimana orang itu tinggal. berbeda dengan fanatisme (Chauvinisme) yang cenderung keliru dalam menafsirkan rasa cintanya yang berlebih pada sesuatu. Kecintaan berlebihan inilah yang kerap menjadi pemicu adanya berbagai konflik sosial di tengah masyarakat. Hal- hal seperti ini yang dapat merusak nilai- nilai dan energi positif yang terbangun dalam dunia olahraga kita. Tentu kita memiliki mimpi yang sama akan kejayaan olahraga kita hingga ke level paling tinggi.

Kita menginginkan prestasi- prestasi gemilang dapat diraih oleh semua cabang olahraga. Tapi dari semua harapan itu, prestasi menjadi tidak lebih penting jika semua itu diraih dengan proses yang buruk dan jauh nilai- nilai luhur. Kita tidak ingin, olahraga justru menjadi media yang membibit-suburkan benih perpecahan dengan membiarkan tumbuhnya tunas- tunas fanatisme yang mengarah pada sikap- sikap yang negatif dan merusak dalam tubuh olahraga kita. Sebab jika seperti itu, maka yang terjadi hanyalah didalam tubuh yang kuat, terdapat jiwa- jiwa yang rusak. Kerusakan secara fisik tentu masih bisa kita perbaiki (meskipun mungkin butuh anggaran yang tidak kecil), tetapi kerusakan psikis dan mental yang ditimbulkan apalagi berakibat pada perpecahan dalam masyarakat tentu akan merugikan baik secara pribadi maupun secara komunal. Dan bisa kita pastikan itu bukanlah tujuan dari pembinaan olahraga khususnya di Kota Makassar.

Kita memimpikan sportivitas, soliditas dan solidaritas yang terbangun dalam jiwa- jiwa kaum muda kota Makassar. Olahraga seharusnya menjadi sumbu yang terus menyala yang akan membakar segala benih permusuhan dan akan menerangi jalan- jalan pertemanan, khususnya untuk Makassar yang semakin baik. Seperti ungkapan latin, Ubi Amicia, Ibi Opes (dimana ada kawan, disitu ada kekuatan). Jika tidak lewat jalan lain. Mungkin harapan itu lahir dari dunia olahraga. (*)

News Feed