English English Indonesian Indonesian
oleh

Perjalanan Nurhayati Rahman Dedikasi untuk La Galigo: Didorong Johan Nyompa, Sempat Ditentang Mattulada

Kehadiran empat jilid terjemahan La Galigo tidak bisa dilepaskan dari peran Nurhayati Rahman. Bagaimana perjalanan hidupnya hingga akhirnya berkenalan dengan La Galigo?

ILHAM WASI
Tamalanrea

Perjalanan akademik Nurhayati Rahman dalam mendedikasikan dirinya bagi La Galigo dimulai sejak masa kuliah di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya), Unhas. Kisahnya dimuat dalam buku “Aku di Antara Santri dan Tradisi” terbitan Obor.

Buku ini diluncurkan bersamaan dengan jilid ke-4 terjemahan La Galigo di Gedung Science and Techno Park, Unhas, Sabtu, 22 Februari. Jilid ke-4 La Galigo ini diterjemahkan oleh Prof Nurhayati Rahman bersama dua akademisi Unhas, Basiah, dan Faisal Oddang.

Nurhayati Rahman lahir di Desa Assorajangnge, Kecamatan Lappariaja, Bone, 29 Desember 1957. Ia tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan tradisi keagamaan. Ayahnya, AG KH Abdul Rahman Matammeng, merupakan generasi kedua pesantren Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) dan murid langsung dari Anregurutta KH Abd Rahman Ambo Dalle. Sementara ibunya, Hj Andi Zubaedah Daeng Baji, adalah seorang bangsawan yang besar dalam tradisi santri.

Nurhayati mengenyam pendidikan di pesantren DDI. Tahun 1976, dia melanjutkan studi di Fakultas Syariah, IAIN (sekarang UIN Alauddin Makassar), dengan mengikuti harapan ayahnya menjadi ahli hukum. Namun, karena kendala jarak antara tempat tinggalnya di Jalan Sunu dan kampus di Jalan Alauddin, ia hanya bertahan satu semester. Tahun 1977, ia beralih ke Jurusan Sastra Arab dan Kebudayaan Islam, Fakultas Sastra Unhas.

Perjalanan akademiknya berubah drastis pada tahun 1983, saat ia pertama kali serius mempelajari La Galigo. Johan Nyompa, dosennya yang juga seorang antropolog, memberinya naskah La Galigo yang sudah menguning dan lapuk, serta mendorongnya untuk menjadikannya bahan skripsi. “Bikin ini Nur menjadi skripsimu, belum ada ahli Lontaraq khususnya La Galigo di Fakultas kita.” tulis Nurhayati dalam bukunya. Dia mengingatkan semangat dari Johan Nyompa.

Pada awalnya, dia merasa kesulitan membaca naskah tersebut, hingga akhirnya dia belajar secara otodidak dengan bantuan Nenek Aji-nya, yang fasih membaca Lontaraq. Dengan tekun, ia mengidentifikasi huruf-huruf kuno dan mempelajari makna yang terkandung di dalamnya. Hasilnya, ia berhasil menyelesaikan skripsinya pada tahun yang sama. Judul naskah tersebut “Sureq Panrita Sulesanae”, yang berisi kisah ulama bijaksana tentang perjalanan manusia dari dunia hingga akhirat.

Setelah lulus, Nurhayati diterima sebagai dosen di Fakultas Sastra Unhas pada tahun 1984. Tiga tahun kemudian, atas dorongan Dekan Ambo Gani, ia melanjutkan studi magister di Universitas Padjadjaran Bandung dengan konsentrasi filologi. Kembali, dia memilih La Galigo sebagai objek studinya, kali ini dengan mengkaji episode “Meong Mpalo Bolongnge.” Setelah merampungkan S2, dibukalah Jurusan Sastra Daerah Unhas, tempat Nurhayati mengabdi.

Ketika melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1993, ia menghadapi tantangan besar. Co-promotornya, Prof Mattulada, yang awalnya mendukung, justru menentang mengambil La Galigo sebagai topik disertasi karena khawatir ia tidak akan mampu menyelesaikan studinya tepat waktu. Namun, dengan keyakinan bahwa pengalaman S1 dan S2 telah membekalinya dengan cukup pemahaman, ia tetap bertekad melanjutkan kajiannya.

“Karena aku telah memiliki cukup pengalaman ketika menggali La Galigo pada saat S1 dan S2. Itu menjadi pegangan keyakinanku bahwa aku bisa menyelesaikan studi tepat waktu,” kata dia.

Disertasinya yang berjudul “Cinta, Laut, dan Kekuasaan dalam Epos La Galigo” akhirnya mengantarkannya menjadi doktor filologi pertama dari Kawasan Timur Indonesia (KTI). Studi ini juga membawanya ke Leiden, Belanda, tempat ia melakukan riset pustaka di KITLV dan Universitas Leiden selama setahun.

Setelah meraih gelar doktor, Nurhayati terus berkontribusi dalam pelestarian La Galigo. Jilid pertama terjemahan La Galigo yang dikerjakannya terbit pada tahun 1995, disusul jilid kedua pada 2001. Pemerintah Indonesia mulai terlibat dalam penerbitan jilid ketiga, dan pada 2015–2017 jilid pertama dan kedua diterbitkan ulang. Jilid ketiga dikerjakan atas dukungan Yayasan La Galigo milik Jusuf Kalla. Di samping itu, JK membeli kopi digital 12 Jilid naskah La Galigo yang ada di Perpustakaan Universitas Leiden. Naskah itu bisa terbuka dan dapat diakses.

Kisah pelestarian La Galigo tak lepas dari peran Colliq Pujie, Ratu Pancana di Kerajaan Tanete pada abad ke-19. Colliq Pujie inilah yang menyalin 12 jilid naskah La Galigo yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Kini naskah itu tuntas diterjemahkan empat jilid Prof Nurhayati Rahman bersama timnya.

Faisal Oddang, yang juga seorang sastrawan, mengatakan, bekerja menerjemahkan La Galigo adalah bagian dari proses belajarnya. Dalam proses penerbitan La Galigo jilid 4, ia diberi tugas oleh Prof Nurhayati untuk menerjemahkan dari bahasa Bugis kuno ke bahasa Indonesia.

“Saya belajar banyak hal, terutama mengenai teknis penerjemahan. La Galigo ini adalah karya yang ditulis dengan cita rasa sastra yang tinggi,” papar dosen Sastra Indonesia ini. (*/)

News Feed