English English Indonesian Indonesian
oleh

Anta Nurun Fauqa Nurin

Menurut Prof Dr Mutawalli Sya’rawi, mantan Rektor al-Azhar, dalam melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj Rasulullah Saw. melewati tiga fase alam (qanun). Pertama Beliau menyebutnya qanun Bayariah. Inilah alam manusia, dimana pada alam ini berlaku hukum natural of law (sebab akibat). Dengan kendaraan Buraq yang kecepatannya lebih cepat dari kecepatan cahaya. Perjalanan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, melewati alam syahadah atau alam materi yang sering juga disebut dengan alam fisik karena alam syahadah merupakan alam yang dapat dicapai oleh indera manusia baik dengan menggunakan alat atau tidak.

Setelah itu Nabi Saw. dipersiapkan berangkat ke tempat yang tinggi, inilah perjalanan Mi’raj. Jika Isra sebagai perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dan Mi’raj yang artinya bergerak ke langit ke tujuh (sidratul muntaha). Jika disimplikasi, maka Isra adalah perjalanan horizontal dan Mikraj adalah perjalanan vertikal.

Lanjut Syekh Mutawalli Sya’rawi menyebutkan, perjalanan Mik’raj Nabi Saw. Yang kedua ini masuk pada qanun Malakiah (Undang-undang/alam Malaikat), menembus dimensi ruang menuju ke dimensi yang lebih tinggi, immaterial atau gaib, alam yang tidak dapat tercapai oleh indera. Selanjutnya ada hadis mutawatir yang panjang menjelaskan bagaimana Nabi Saw bertemu beberapa Nabi, mulai drai langit pertama, ketemu Nabi Adam As. kedua Nabi Saw bertemu Nabi Isa As. dan Nabi Yahya As, lalu keduanya berkata, “Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi.” Kemudian Nabi Saw. naik ke langit ketiga bertemu Nabi Yusuf As dan memberi salam kepadanya.
Kemudian Nabi Saw naik ke langit keempat bertemu Nabi Idris Aa dan memberi salam kepadanya. Lanjut Nabi Saw naik ke kelima bertemu Nabi Harun As, setelah memberi salam, lanjut naik ke langit enam bertemu dengan Nabi Musa As. dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata, “Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi.” tiba-tiba Nabi Musa menangis. Lalu ditanyakan, “Mengapa kamu menangis?” Musa menjawab, “Ya Rabb, anak ini yang diutus setelah aku, umatnya akan masuk surga dengan kedudukan lebih utama dibanding siapa yang masuk surga dari umatku.”

Kemudian Nabi Saw naik ke langit ke tujuh bertemu Nabi Ibrahim As dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata, “Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi.” Kemudian Nabi dipelihatkan al-Baitul Ma’mur. Aku bertanya kepada Jibril, lalu dia menjawab, “Ini adalah al-Baitul Ma’mur, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat mendirikan salat di sana. Jika mereka keluar (untuk pergi salat), tidak ada satu pun dari mereka yang kembali.”

Kemudian Nabi Saw diperlihatkan Sidratul Muntaha yang ternyata bentuknya seperti kubah dengan daun jendelanya laksana telinga-telinga gajah. Di dasarnya ada empat sungai yang berada di dalam (disebut Bathinan) dan di luar (Zhahiran).” Aku bertanya kepada Jibril, maka dia menjawab, “Adapun Bathinan berada di surga, sedangkan Zhahiran adalah an-Nail dan al-Furat (dua nama sungai di surga).”

Kemudian Nabi naik ke tempat yang tertinggi. Oleh Syekh Mutawalli Sya’rawi disebut Qanun Ilahiyah (hukum Tuhan). Tidak ada makhluk yang bisa masuk ke dalamnya kecuali Rasulullah Saw. Bahkan Jibril As saja tidak bisa masuk, karena cahayanya tidak bisa bertemu dengan cahaya-Nya Allah kecuali Rasulullah. Itulah sebabnya Nabi disebut “Anta nurun fauqa nurin” (Engkau cahaya di atas cahaya). Hingga Nabi bertemua dengam Allah dan diberikan kewajiban shalat dari lima puluh rakaat hingga hanya lima rakaat. Wallahu a’lam

News Feed