FAJAR, MAKASSAR – Antusiasme pecinta film di Makassar kembali terlihat dalam acara nonton bareng (nobar) film Coto vs Konro yang digelar di Studio 4 CGV Mall Panakkukang Square. Acara ini menjadi sesi nobar terakhir sebelum memasuki bulan suci Ramadhan 1446 H.
Acara ini dihadiri oleh berbagai komunitas dan organisasi, termasuk DPW Hikma Sulsel, DPD Hikma Kota Makassar, Maiwa News, IKA BKPRMI, AFC Community, serta beberapa komunitas lainnya.
Kehadiran mereka menambah semarak suasana nobar, menjadikannya lebih dari sekadar pemutaran film, tetapi juga ajang silaturahmi bagi pecinta film dan budaya Makassar.
Para pemain yang turut hadir dalam nobar ini antara lain Luthfi Sato sebagai pemeran utama, serta para supporting talent seperti Adit Triyuda, Ria Luthfi, dan Chand Chiko Juwita.
Pemeran Haji Matto dalam film tersebut, Luthfi Sato mengatakan mereka memberikan kesempatan bagi penonton untuk lebih dekat dengan para pemeran film yang mengangkat budaya dan kuliner khas Makassar ini.
“Kita bersyukur nobar film Coto vs Konro menjelang akhir Ramadhan ini berlangsung sukses. Studio 4 CGV yang berkapasitas 128 kursi penuh oleh penonton. Ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap film ini masih tinggi, meskipun promosinya dilakukan secara sederhana,” ujarnya.
Keberhasilan acara tersebut kata dia, semakin memperkuat rencana untuk membawa nobar ke kota-kota lain, termasuk Palu dan Sorong, serta beberapa kabupaten/kota di Sulawesi Selatan yang memiliki jaringan bioskop seperti Palopo, Bone, dan Sengkang.
“Langkah ini diharapkan dapat memperluas jangkauan film Coto vs Konro dan memperkenalkan budaya Makassar ke lebih banyak penonton,” ucapnya.
Film Coto vs Konro tidak hanya menghadirkan hiburan tetapi juga sarat akan budaya lokal. Dengan mengangkat kuliner khas Makassar, Coto dan Konro, serta memperkenalkan aksara Lontara dalam alur ceritanya, film ini menjadi representasi kuat identitas dan kearifan lokal Makassar.
Akting Luthfi Sato sebagai Haji Matto mendapat banyak pujian dari penonton. Karakternya yang tegas, berprinsip, namun juga penuh kehangatan, membuat sosoknya sangat melekat di hati penonton.
Selain itu, peran Daeng Sangkala yang dimainkan oleh almarhum Awaluddin Tahir juga memberikan kesan mendalam. Para pemeran lainnya, seperti Aty Kodong, Musdalifah Basri, Nielam Amir, dan Ichal Kate, turut memberikan warna tersendiri dalam film ini.
Sutradara Irham Acho Bachtiar, yang berasal dari Bone-Tolaki, berhasil menyajikan film ini dengan apik. Sayangnya, terbatasnya layar dan minimnya promosi membuat film ini belum sepenuhnya menjangkau pecinta film di berbagai daerah, terutama masyarakat Sulawesi Selatan di perantauan.
Oleh karena itu, diharapkan tokoh masyarakat, komunitas, serta media turut mendukung penyebarluasan informasi mengenai film ini.
Komentar positif terus mengalir dari penonton yang sudah menyaksikan film ini. Mereka menyebut film ini sebagai tontonan yang lengkap—menghibur, penuh komedi, menegangkan, dan menyentuh emosi.
Alur cerita yang sulit ditebak dan ending yang mengejutkan membuat durasi 1 jam 42 menit terasa begitu singkat.
Hal menarik lainnya adalah tepuk tangan meriah yang selalu terdengar setiap kali film ini selesai diputar, bukan hanya saat gala premiere, tetapi juga di setiap sesi nobar dan pemutaran reguler.
Banyak penonton yang enggan beranjak dari kursinya, seolah masih ingin terus menyaksikan kelanjutan cerita.
“Kita dibawa larut dalam alur ending film ini yang sangat memukau. Saya sampai menangis,” ujar salah satu penonton.
Film Coto vs Konro telah membuktikan diri sebagai film drama komedi keluarga yang layak disejajarkan dengan film nasional lainnya. Bagi yang belum sempat menyaksikan, bisa mendapatkan informasi nobar selanjutnya melalui Instagram resmi @cotovskonro.(wis)