English English Indonesian Indonesian
oleh

Permata Indonesia Tetapkan Ahmad Sagito Jadi Sekretaris Jenderal

FAJAR, MAKASSAR-Musyawarah Nasional ke-XII Perhimpunan Mahasiswa Pertambangan Indonesia (Permata Indonesia) telah berhasil menyelesaikan TIMTI (Temu Ilmiah Mahasiswa Tambang Indonesia) ke-XVIII dan MUNAS (Musyawarah Nasional) ke-XII. Acara berlangsung tanggal 9-13 Januari 2024, selama 5 hari di Kampus II Universitas Islam Bandung, dihadiri oleh delegasi perwakilan Himpunan Pertambangan dari seluruh wilayah Indonesia.

MUNAS tersebut diadakan dengan tujuan mengganti kepengurusan yang telah berakhir pada tahun kerja 2021-2023. Hasilnya, Ahmad Sagito dari HMTP FTI-UMI terpilih sebagai Sekretaris Jenderal Permata Indonesia untuk periode 2024-2025.

Ahmad Sagito mengakui, kepercayaan yang diberikan oleh peserta Munas merupakan tanggung jawab besar. Ia berkomitmen untuk membawa Permata Indonesia ke tingkat nasional dan internasional sesuai dengan visi organisasi, yaitu Restorasi Permata Indonesia sebagai poros utama dalam peningkatan “Power and Knowledge” untuk seluruh mahasiswa pertambangan Indonesia.

Ahmad Sagito menekankan pentingnya membangun hubungan yang masif dan komprehensif dengan seluruh himpunan mahasiswa tambang di Indonesia. Hal ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat koneksitas dengan stakeholder, termasuk Pemerintah, Asosiasi Pertambangan, Swasta, dan alumni pertambangan.

Dalam upayanya untuk memperkuat basic keilmuan anggota Permata Indonesia yang tersebar di lima wilayah, Ahmad Sagito akan mendorong pelaksanaan pelatihan softskill dan hardskill. Hal ini dilakukan melalui himpunan anggota Permata Indonesia di setiap wilayah, yaitu Wilayah 1 (Sumatra), Wilayah 2 (Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara), Wilayah 3 (Kalimantan), Wilayah 4 (Sulawesi), dan Wilayah 5 (Maluku dan Papua).

Pada periode ini, Permata Indonesia berkomitmen untuk lebih responsif terhadap isu dan wacana situasi pertambangan nasional. Mereka juga akan mendorong gagasan yang dapat memajukan pertambangan nasional, seperti hilirisasi industri pertambangan, energi baru terbarukan, pengurangan tenaga kerja asing, dan penerapan good mining practice.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya korelasi antara pemerataan pendidikan di dunia kampus pertambangan, baik kampus negeri maupun swasta. Ini mencakup pembaruan fasilitas laboratorium dan rangkuman terbaru, sehingga mahasiswa pertambangan dapat menjadi ahli yang sesuai dengan kemajuan teknologi, sekaligus menegaskan prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)

News Feed