Oleh : Fahriady Zein
Alumni UINAM jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Guru di Sekolah Makassar Islamic School
Hari Raya Id Fitri seyogianya tidak hanya dimaknai dan disambut dengan penuh kegembiraan sebagai tradisi tahunan dengan cara memakai baju baru, mudik dan berkumpul bersama keluarga tercinta serta menyantap berbagai makanan yang lezat setelah sebulan lamanya menahan nafsu jasmani kita dan sebagainya. Tetapi lebih dari itu, id fitri seharusnya menjadi momentum atau titik balik sebagai ummat muslim untuk kembali pada fitrah-nya-kesucian jiwanya dan menjadi tonggak awal kebangkitan spritual setelah sebulan lamanya kita ditempa dan dididik pada universitas ramadan.
Ramadan; Universitas Penyucian jiwa
Pada hakikatnya manusia itu dilahirkan dalam keadaan fitrah-suci, bersih dari dosa dan sebagainya. Namun dalam perjalanannya, kesuciaan itu tertutupi oleh noda-noda kehidupan, seperti ambisi keduniaan yang tidak ditopang oleh nilai-nilai keakhiratan, keinginan memiliki yang lebih banyak dengan menghalalkan segala cara serta menjadikan nafsu sebagai imam dalam kesehariaanya sehingga terdorong untuk melakukan berbagai keburukan-keburukan dan maksiat kepada Allah swt.
Namun, Allah dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya, tidak mau melihat makhluk-Nya tersesat terlalu jauh dari-Nya, maka dari itu Allah swt menghadirkan ramadan sebagai wadah atau jalan untuk menyucikan kembali noda-noda kehidupan tersebut yang telah melekat dalam diri kita.
Ramadan menjadi jalan/wadah untuk menyucikan jiwa serta membersihkan diri kita dengan cara mengasah kesabaran, melatih pengendalian diri serta menahan hawa nafsu, bukan cuman hawa nafsu yang bersifat jasmani seperti makan dan minum tetapi juga hawa nafsu yang bersifat rohani seperti egois, pemarah, serakah dan sebagainya.
Selama satu bulan lamanya kita ditempa dan dididik dari segi jasmani dan rohani, sehingga dengan itu, harapannya kita bisa kembali kepada kesucian/kefitrahan yang sesungguhnya dengan menyandang gelar predikat takwa (laallaqum tattaqum) sebagai tujuan dari puasa itu sendiri. Predikat takwa inilah yang akan menjaga fitrah-kesucian kita setelah meninggalkan ramadan.
Memaknai Hakikat Fitrah
Dalam al-Qur’an terma fitrah disebutkan sebanyak 20 kali dengan berbagai bentuk katanya mulai dari fi’il madhi, mudhari dan sebagainya. Fitrah dari segi bahasa selain bermakna suci itu juga bermakna tentang potensi ketahuidan yang ada dalam diri manusia sejak awal mula diciptakan. Hal ini sebagaimana terekam dalam QS. Rum ayat 30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Islam sesuai fitrah Allah tidak ada perubahan pada ciptaan Allah itulah agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. al-Zamaksyari menafsirkan ayat di atas bahwasanya fitrah merupakan ciptaan Tuhan agar manusia dapat menerima ketauhidan dan agama Islam. hal senada juga disampaikan oleh mufassir yang lain yaitu Ibn Katsir bahwasanya manusia sejak lahir telah membawa tauhid, atau paling tidak ia berkecenderungan untuk meng-Esa-kan Tuhannya, dan berusaha terus mencari untuk mencapai ketauhidan tersebut.
Dalam konteks inilah penulis berpendapat bahwa fitrah yang sejati adalah fitrah yang mampu memadukan secara seimbang prinsip ketahuidan dalam dirinya, tidak hanya sebatas pada hubungan vertikal (habluminallah) saja, tetapi itu kemudian juga ter-ejewantahkan dalam hubungan horizontal (habluminnas) hubungan yang baik antar sesama manusia. Tauhid yang sejati adalah tauhid yang memadukan antara iman dan amal, keyakinan dan dimensi sosial, dimana iman akan mengantarkan pada prinsip nilai kemanusiaan yang berkeadilan.
Maka dalam konteks itu pulalah dalam perayaan id fitri itu juga kita dianjurkan untuk saling maaf memaafkan antar sesama ummat muslim, mempererat kembali hubungan dimensi sosial kita. Selain Nabi tidak ada manusia yang benar-benar tidak memiliki kesalahan. contohnya kesalahan seorang istri terhadap suaminya, kesalahan seorang anak terhadap orang tuanya ataupun sebaliknya.
Memberi maaf terhadap orang yang pernah menyakiti kita bukanlah perkara yang mudah sebab hal tersebut membutuhkan jiwa yang lapang, hati yang bersih dan mental yang kuat. Barangkali hal itu pulalah dalam QS. Ali Imran ayat 134 memberi maaf dikategorikan sebagai ciri dari pada orang-orang yang bertakwa. Takwa dan memberi maaf adalah dua istilah yang saling terkait. Tidak mungkin orang yang bertakwa tidak memberi maaf pada saudaranya, dan disisi yang lain, sama tidak mungkinnnya orang yang memberi maaf tidak bersemayam dalam dirinya sifat takwa itu. Sehingga dengan itu, kita bisa menjadikan hal tersebut sebagai barometer dalam menilai diri kita masing-masing, apakah takwa sebagai tujuan dari ramadan itu sudah ada atau malah sebaliknya?
Perayaan id fitri, bukan hanya soal hubungan dengan Allah (hablumminallah) tetapi juga soal hubungan antar sesama (hablumminannas), sebab tidak mungkin seseorang bisa benar-benar kembali ke fitrahnya-kesuciannya jika dihatinya masih dipenuhi dengan dendam ataupun kebencian terhadap saudar-saudaranya. Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali kepada kesucian tersebut seperti kesucian seorang bayi yang baru lahir dari rahim ibunya yang bersih dari dosa dan kesalahan. dan tetap menjaga kesucian tersebut dihari-hari selanjutnya. Amiin.
Selamat Hari Raya Id Fitri, mohon maaf lahir batin. (*)