Para pedagang di Pasar Tradisional Makassar mengeluhkan penurunan daya beli masyarakat. Ini semakin terasa menjelang Hari Raya Idulfitri.
IRMAWATI
Pasar Sentral
Jalan KH Ramli dipadati puluhan kendaraan. Sedikit macet. Bahkan pada pukul 13.00 WITA, masyarakat sudah memadati Pasar Sentral Makassar di tengah terik matahari. Namun, keramaian di Pasar Sentral Makassar itu tidak membawa kebahagiaan bagi para pedagang. Omzet mereka menurun drastis menjelang Idulfitri. Pasar ini tak semanis dulu kala jelang Lebaran.
Hasnawiah (58), seorang pedagang pakaian, menjelaskan, menjelang Ramadan, Pasar Sentral memang selalu ramai dan puluhan mobil parkir di jalan. Namun, kebanyakan dari mereka hanya berlalu-lalang melewati toko-toko di sini.
“Sebelum pandemi COVID-19, semua orang tahu Pasar Sentral ramai oleh penjual dan pembeli. Saya mulai berjualan di sini pada tahun 2022, tetapi sejak pandemi berakhir, pasar ini tidak seramai dulu,” jelasnya saat ditemui di lantai dua pasar.
Para pedagang di pasar tradisional Makassar mengeluhkan jumlah pembeli yang terus menurun. Penurunan ini dipicu oleh efisiensi anggaran dan dampak pandemi COVID-19 yang masih dirasakan masyarakat.
Andi Baiturrozaq, pedagang pakaian di Pasar Sentral, menambahkan beberapa faktor yang menyebabkan penurunan minat pembeli. Banyak orang lebih memilih belanja daring, dan cuaca menjelang Lebaran yang sering hujan juga tidak mendukung.
“Pendapatan saya tahun ini menurun dibandingkan tahun lalu. Biasanya, seminggu sebelum Lebaran, pembeli sudah ramai. Namun, saat ini, paling banyak hanya delapan potong pakaian yang terjual,” jelasnya.
Penurunan jumlah pembeli mencapai lebih dari 60% dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini membuat sebagian besar pedagang kesulitan memenuhi target penjualan harian mereka.
“Biasanya, dalam dua minggu penjualan, omzet bisa mencapai 200 juta. Sekarang, tidak sampai 200 juta. Mendekati Lebaran, pendapatan harian biasanya mencapai 30-40 juta. Namun, saat ini hanya 10 juta,” ujarnya. Selain itu, kondisi ekonomi yang kurang baik, efisiensi anggaran pemerintah, dan belum cairnya Tunjangan Hari Raya (THR) juga memengaruhi.
Menurut pedagang, kondisi ekonomi yang tidak stabil membuat banyak orang menahan pengeluaran, terutama untuk barang-barang non-esensial seperti pakaian.
Faktor ekonomi juga menjadi penyebab utama berkurangnya minat belanja masyarakat. “Selain belanja daring dan cuaca, pendapatan masyarakat yang menurun juga membuat daya beli mereka turun,” tambah Riska (35), seorang pedagang.
Ia menjelaskan, penurunan daya beli jarang terjadi menjelang momen besar seperti Lebaran, ketika masyarakat cenderung membeli kebutuhan pakaian. Penurunan ini tidak hanya memengaruhi penjualan di pasar tradisional, tetapi juga di pusat perbelanjaan lainnya.
“Penurunan jumlah pembeli ini sudah saya rasakan sejak awal pandemi Covid-19. Perubahan perilaku pembeli untuk belanja online juga berdampak pada pasar tradisional,” jelas Riska. Pendapatannya pun semakin menurun. Saat ini, ia hanya memperoleh pendapatan Rp500 ribu hingga Rp1 juta per hari. Padahal, sebelum kondisi sulit ini, ia bisa memperoleh maksimal Rp2 juta per hari.
Perubahan gaya hidup masyarakat modern adalah salah satu faktor yang mungkin berperan dalam penurunan minat pembeli di pasar tradisional. “Saya ke pasar hanya menemani orang tua berbelanja kebutuhan mereka. Untuk pakaian Lebaran, saya lebih memilih belanja daring melalui platform e-commerce yang menawarkan kemudahan dan kenyamanan,” jelas Azizah (23).
Namun, ada juga lebih memilih belanja di pasar daripada daring. “Saya memang selalu ke Pasar Sentral menjelang Ramadan untuk membeli pakaian Lebaran. Saya lebih suka belanja langsung karena bisa menilai langsung kualitas pakaian yang dipilih,” ungkap Risma Melati (25).
Menurutnya, pasar tradisional harus melakukan inovasi, modernisasi, meningkatkan layanan, dan memanfaatkan teknologi untuk menarik kembali minat pelanggan jika ingin bertahan dan bersaing. (*/ham)