Oleh: Muhammad Syarkawi Rauf (Dosen FEB Unhas)
HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Fluktuasi harga saham merupakan indikator untuk menilai kondisi kesehatan suatu perekonomian, secara khusus pasar modal. Indikator harga berfungsi sama dengan termometer bagi dokter, jika termometer menunjukkan suhu badan terlalu tinggi dan rendah maka mengindikasikan pasien sakit. Suhu badan normal 36 – 37 derajat celcius.
Volatilitas harga sering terjadi pada saham-saham dengan kapitalisasi pasar kecil yang rentan tindakan spekulasi, yaitu memanipulasi harga untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek. Di mana harganya bisa sangat tinggi atau sangat rendah dalam jangka pendek tanpa ada kaitan dengan kondisi fundamental dari saham yang diperdagangkan (fenomen decoupling).
Fenomena penurunan harga saham terjadi pada mayoritas Emerging Market Economies (EMEs) di Asia pada awal tahun 2025. Dimana indeks harga saham gabungan Indonesia menurun sampai 857 poin hingga saat ini atau sekitar 12,11 persen pada awal tahun 2025 (Trading Economics, 2025). Terendah dibandingkan harga saham EMEs lainnya.
Kondisi yang sama juga terjadi pada indeks harga saham gabungan Malaysia menurun 129 poin atau 7,87 persen pada awal tahun 2025. Demikian juga dengan indeks harga saham gabungan Pilipina menurun 406 poin atau 6,16 persen pada awal 2025.
Bahkan indeks harga saham gabungan India, negara dengan kinerja ekonomi terbaik diantara negara-negara EMEs dan Group of Twenty (G20) juga menurun dari 78.315 pada 4 Februari 2025 menjadi 72.766 pada 4 Maret 2025.