WAJO, FAJAR — Masyarakat pesisir Danau Tempe di wilayah Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo, mengeluh. Mereka tidak lagi bisa hidup sejahtera karena kampung mereka terendam terus.
Keresahan tersebut disampaikan oleh Kepala Desa Limporilau, Abd Rahim; Kepala Desa Lautang, Muhammad Rustan; serta Kepala Dusun Tancung Purai, Sapri saat menyanpaikan aspirasi di Gedung DPRD Wajo.
Abd Rahim mengatakan, sejumlah warganya yang sebelumnya bermukim di Tancung Purai telah berpindah domisili ke beberapa wilayah. Ada ke Kabupaten Maros, Kota Palu (Sulawesi Tengah), bahkan sampai ke Kalimantan.
“Banyak-mi warga kami bertransmigrasi, keluar (dan tak lagi) menjadi penduduk Limporilau. Karena dampak banjir yang tidak kunjung surut,” ujarnya, Senin, 24 Maret 2025.
Bencana banjir di wilayah pesisir Belawa, diakibatkan karena kondisi Danau Tempe yang mengalami sedimentasi serius. Disinyalir danau purba itu sudah mendangkal, sehingga luapannya kian meluas.
“Sudah hampir 4 bulan banjir belum surut, karena kondisi ini masyarakat tidak sudah bertani, berkebun. Tidak ada penghasilan, tidak ada kesejahteraan bagi masyarakat saya,” tutur mantan guru Sekolah Dasar (SD) ini.
Senada juga disampaikan oleh Muhammad Rustan. Ada ratusan hektare (ha) pertanian tidak memberikan kontribusi kepada petani, karena bencana banjir sejak akhir November 2024 lalu belum surut.
“Awal Februari lalau petani sudah menanam padi, tapi datang lagi banjir. Jadi semuanya tenggelam,” ucap Rustan sapaannya.
Menyikapi hal itu, anggota DPRD Wajo, Ibnu Hajar yang menerima aspirasi tersebut menyampaikan, masalah banjir ini berdampak ke sejumlah daerah di Belawa. Bukan hanya Lautang dan Limporilau.