English English Indonesian Indonesian
oleh

Krisis Iklim Ancam Produksi Pangan, Pembangunan Berbasis Keberlanjutan Lingkungan

Selama ini, peningkatan produksi komoditas pertanian cenderung melalui ekstensifikasi daripada intensifikasi, sehingga mendorong alih fungsi lahan.

Produksi padi juga terkena imbas perubahan iklim. Menurut riset yang diterima ICRAF, setiap kenaikan suhu udara sebesar 1 derajat celsius setahun akan menurunkan produksi padi sekitar 4.500 ton di setiap provinsi di Indonesia. Hal ini menyajikan tantangan bagi Sulsel sebagai penghasil padi terbesar ke-4 di seluruh Indonesia.

Kerugian akibat perubahan iklim bisa jadi lebih buruk dengan praktik-praktik pengelolaan bentang lahan dan pembangunan yang kurang memperhatikan daya dukung lingkungan.

Data yang dihimpun Dinas Kehutanan Sulsel, terdapat lebih dari 500.000 hektare lahan kritis di seluruh provinsi Sulsel. Penyebab utama lahan kritis adalah penggundulan dan degradasi lahan yang disebabkan oleh aktivitas manusia seperti penebangan hutan ilegal, pembukaan lahan tanpa konservasi, dan alih fungsi lahan.

Masyarakat rentan, terutama yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya alam, menghadapi kerentanan khusus terhadap perubahan iklim. Persoalan lahan kritis, misalnya, menempatkan petani pada dilema antara memenuhi kebutuhan hidup atau menjaga lingkungan dari erosi dan banjir. Begitu pula dengan perempuan, yang karena berbagai faktor, termasuk faktor budaya, sangat terpengaruh oleh kekeringan dan perubahan pola curah hujan.

Semua ini menyajikan tantangan serius bagi ekonomi Sulawesi Selatan, yang masih mengandalkan sektor lahan. Bagaimanapun, kapasitas lingkungan untuk mendukung berbagai kegiatan manusia ada batasnya. Jika batas itu diabaikan, risiko bencana akan semakin besar dan dampaknya bisa dirasakan oleh generasi masa depan.

News Feed