English English Indonesian Indonesian
oleh

Tren Viktimisasi Berganda

Spektrum: Saharuddin Daming

Sudah merupakan kelaziman dalam penanganan kasus tindak pidana, kedudukan korban umumnya dianggap sebagai pihak yang perlu mendapatkan upaya perlindungan dan empati dari semua pihak. Namun dalam kasus pembunuhan Eky dan Vina, justru menunjukkan fenomena terbalik, lantaran perhatian terhadap korban mengalami pergeseran menjadi viktimisasi berganda yang ditandai dengan menguatnya keberpihakan pada kepentingan terduga pelaku.

Mengingat kasus pembunuhan Eky dan Vina lagi booming, maka media mainstream yang berbalut ideologi kapitalisme berusaha untuk “membajak” berita populer dan mengarahkan narasi atau fokus peliputan untuk memanfaatkan momentum tersebut demi keuntungan komersial. Mereka menggunakan taktik media hijacking/newsjacking dimana media massa memanfaatkan peristiwa yang sedang booming atau berita besar untuk menarik perhatian audiens, meningkatkan rating, dan pada akhirnya menarik lebih banyak pemasangan iklan. Dengan motif meningkatkan rating, maka media massa berperan sentral menjadi wadah penggiringan opini publik untuk melancarkan viktimisasi berganda dengan memarjinalkan kepentingan korban.

Melalui kolaborasi simbiosis mutualisme, sejumlah oknum advokat memanfaatkan momentum tersebut untuk mempublikasi euforia kemenangan gugatan pra peradilan di PN Bandung, sebagai puncak penguatan viktimisasi berganda terhadap korban. Tak ayal jika wacana publik cenderung tergiring mengikuti arus yang dimainkan para lawyer dalam mengharumkan kepentingan kliennya.

News Feed