English English Indonesian Indonesian
oleh

Seni Tiga Dimensi dan Tantangannya di Era AI

FAJAR, MAKASSAR — Membuat karya 3 dimensi atau 3D bukan perkara mudah, membutuhkan waktu dan kerja yang tak gampang. Pun mesti memiliki insting seni yang kuat.

Itu diakui Seniman 3D Syamharto, pria yang akrab disapa Syam ini telah malang melintang dalam industri 3D, bahkan dirinya pernah terlibat dalam studio kenamaan Little Gianz, studio yang memproduksi Animasi Nusa.

Pembuatan satu karakter animasi tidaklah mudah, sebab harus memperhatikan estetika, pun gerakan tak serampangan, harus senatural mungkin. Makanya istilah animator kata dia sangat tak tepat, lebih tepat disematkan sebagai seniman 3D. “Jadi ini tetap membutuhkan sense of art dalam pengerjaannya,” jelasnya.

Jika terjun ke dunia yang lebih profesional, sekelas industri, konsep menjadi hal yang sangat vital. Ini menjadi dasar dalam pembentukan suatu adegan hingga keseluruhan film, sangat fatal jika konsep tak matang. “Di konsep menentukan ada karakter, lokasinya di mana saja, terus aset yang digunakan apa saja, semuanya di-list,” katanya.

Konsep ini dibentuk dari gambar-gambar 2D (gambar biasa) yang kemudian dicitrakan dan dibuat adegan model 3D. “Jadi sudah ada referensi, sudah ada gambar 2D yang bakal diaplikasikan ke 3d,” jelasnya.

Adapula animatic story board, atau gambar kasar yang dikonsep untuk animator, agar mereka memahami apa maksud gerakan dalam animasi 3 dimensi yang akan dibuat.

“Jadi ada storyboard, itu gambar bergerak, tetapi cuma menampakkan maksud dan tujuan gerakan, seperti memukul butuh dua frame, dan berjalan, animator sudah paham, dan mereka yang aplikasikan ke gerakan 3 dimensi,” jelasnya.

Dia menilai sense of art ini juga akan sangat dibutuhkan ketika membuat gerakan atau karakter yang tidak normal, seperti monster dan sebagainya, sebab tak ada referensi yang bisa dijadikan acuan. Dia mencontohkan dalam transformer, gerakan perubahan yang sangat estetik dan kompleks tersebut membutuhkan sense of art yang sangat tinggi.

Seni 3D memberikan pengalaman yang unik, memberikan pengalaman 360 derajat kepada penikmatnya. Dari aset-aset 3D ini yang terus dikembangkan hingga menghasilkan satu konsep baru yang tren yaitu dunia virtual. Ini kemudian hadir sebagai bagian dari seni baru yang bisa dinikmati manusia.

Meski demikian, Pakar Komunikasi Visual, Universitas Negeri Makassar (UNM) Nurabdiansyah melihat seni gaya virtual ini tidak akan bisa menggantikan seni konvensional. Seni-seni itu kata dia hanya berubah ke platform baru, baik dalam digital 2 dimensi ataupun yang terbaru digital 3 dimensi lewat Virtual Reality.

“Melihat perkembangan termasuk seni digital, itulah perkembangan yang tidak bisa dihindari, karena dulu kan selalu ada kekhawatiran seni digital menggantikan seni konvensional,” terangnya.

Kekhawatiran itu justru hal yang salah, sebab seni selalu berotientasi kepada estetika tak peduli platform yang digunakan. Menurutnya yang terpenting adalah perkembangan estetika di dalamnya. Termasuk seni digital 3 dimensi ini.

Seni kata dia tidak perlu menolak keberadaan bentuk 3 dimensi ini, namun hanya perlu beradaptasi di dalamnya. “Tidak ada dikitomi yang perlu kita tarik garis batas yang betul-betul berbeda, itu hanya perkembangan media, dan tidak akan mempengaruhi kualitas seninya,” jelasnya.

Tren saat ini justru banyak seniman konvensional yang coba menjajaki seni digital, padahal jika mengacu 20 tahun lalu, seni digital yang dicetak hampir dikatakan sebagai sesuatu yang tabu.

Namun saat ini tren tersebut sudah terpinggirkan. Sudah banyak seniman yang alih-alih menolak perkembangan zaman lebih baik ikut melabur di dalamnya.

Jika berbicara soal seni kata dia merupakan suatu selera dari masing-masing orang, apalagi seni 3d ini menyajikan pengalaman yang tak bisa ditemukan pada jenis seni lainnya.

“Dalam seni 3d virtual reality, kita bisa rasakan pengalaman yang bisa jadi tidak ada di dunia nyata tetapi kita bisa melihat seni itu, saya kira itu bisa jadi perkembangan menarik,” jelasnya.

Tantangan AI, Seniman Terpinggirkan

Seniman era modern juga harus bergelut dengan digitalisasi, bahkan keberadaan mereka terus tergerus digantikan oleh Artificial Intellegence (AI).

AI sendiri menjadi tren baru, sebab cukup praktis dalam menggantikan kerja manusia, bahkan AI mampu mevisualisasikan karya seni hanya dengan teks, hasilnya pun cukup mengagumkan karena tak berbeda dengan seni-seni konvensional dan digital yang dibuat manusia.

Ini menjadi tantangan baru bagi seniman, tak hanya digital melainkan konvensional. Keberadaan AI ini dianggap sebagai cara praktis untuk menghasilkan sebuah karya. Mini kemudian berpotensi menggantikan cara-cara kerja bagi seniman. “Sekarang orang sudah bisa kasi masuk teks dan diubah jadi visual, itu tidak bisa dihindari,” jelas Pakar Komunikasi Visual, Universitas Negeri Makassar (UNM) Nurabdiansyah.

Menurutnya proses berkarya ini harus dilihat sebagai topik tersendiri untuk melihat nilai suatu seni. Dia optimis ke depan orang-orang akan melihat hal ini. Akan ada banyak perspektif yang masuk terhadap perkembangan AI ini. Ada pihak yang melihat hasil dari karya itu, tanpa peduli apakah dibuat oleh AI atau bukan dan ini kata dia sah-sah saja asalkan bisa dipertanggung jawabkan prosesnya.

Adapula yang melihat originalitas merupakan komponen penting dalam seni, jika ini kemudian dibangun dari AI maka originalitas dan nilai dari karya itu akan turun, sebab dibangun oleh mesin dan komputer. “Di satu sisi itu memang jadi kekhawatiran tersebdiri, tapi kalau saya lebih percaya, seni sebagai ilmu pengetahuan itu akan menemukan jalannya sendiri di dalam dunia digital,” jelasnya.

Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Unhas Makassar, Aminuddin Salleh mengatakan perkembangan AI ini selayaknya bisa menghasilkan perubahan budaya di kalangan masyarakat. “Ada perubahan budaya, sebab kerja-kerja ini dimudahkan,” jelasnya.

Pun ini juga berpotensi mematikan kreatifitas manusia. Di samping itu ini juga berpitensi menghasilkan masalah sosial. “Dari teknoligi ini (AI) mereka bisa juga sudah tidak mau bergaul,” sambunngnya.

Meski demikian perkemangan ini adalah suatu keniscayaan dan masyarakat harus mampu beradaptasi di dalamnya. Makanya kata dia ini juga perlu dipandang dengan bijak oleh masyarakat. “Perubahan ini adalah suatu keniscayaan, namun tetap bagaimana kita menyikapi itu, seperti kita tidak terjajah dengan teknologi dan segala kemudahannya,” jelasnya. (an/*)

News Feed