English English Indonesian Indonesian
oleh

Mengubah Sejarah Luar Jawa

OLEH: M. Qasim Mathar

Sahabat saya Dr Hasrullah, dalam satu vidio bertajuk Salam Suara Demokrasi, menitip harapan kepada semua calon presiden (capres) 2024 agar memerhatikan Indonesia kawasan timur. Sahabatku, komunikolog Unhas itu menginginkan keterwakilan kawasan timur di kancah nasional. Secara spesifik, Sahabatku itu menyatakan perlunya pemerataan “kue” politik ke kawasan Indonesia timur. Dia juga yakin bahwa tokoh-tokoh dari kawasan timur mampu berkiprah di kancah politik nasional. Pak Jusuf Kalla (JK) dari Sulawesi Selatan dan Pak Hamzah Haz dari Kalimantan Selatan disebutnya sebagai contoh tokoh luar Jawa yang bisa duduk di jajaran pemimpin nasional. Saya menyetujui pernyataan Sahabatku itu, tapi dengan sedikit catatan dari saya.

Seperti yang diakuinya sendiri, tiga atau empat puluhan tahun berlalu, meski ketika itu kawasan timur disebut IRAMASUKA (Irian, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan); atau IBT (Indonesia Bagian Timur); atau KTI (Kawasan timur Indonesia), yang bisa disebut memang hanya Pak JK dan Pak Hamzah?

Komunikolog Unhas, Sahabatku itu berharap kawasan timur perlu menjadi perhatian para capres. Saya setuju. Tapi, sekali lagi, dengan catatan.

IRAMASUKA , IBT, Kawasan Timur, tinggal cerita. Kenyataannya, mungkin untuk puluhan tahun ke depan, hanya orang yang tinggal di Jawa yang tetap akan jadi presiden dan pejabat politik di pusat kekuasaan (eksekutif, legislatif, dan yudikatif), dan lembaga strategis lainnya.
Agar tidak bergantung pada harapan yang peluangnya sempit, karena butuh waktu yang lama, maka dalam pikiran saya, bolehkah tokoh-tokoh IRAMASUKA, IBT dan Kawasan Timur mendinamisasi secara kreatif keberlimpahan SDA (sumber daya alam) dan menggeser fokus konsentrasi SDA (sumber daya manusia)nya lebih kepada kegiatan non-politik, guna melipatgandakan kekuatan SDA yang didinamisasi oleh SDM melalui penelitian-penelitian dan percobaan-percobaan yang intensif.

Saya bermimpi: buah “coppeng” atau “lobelobe” dibudidaya menjadi anggur dan melahirkan pabrik minuman anggur “coppeng”/”lobelobe”. Atau, di perkebunan-perkebunan pohon coklat berdiri pabrik-pabrik coklat. Atau, di persawahan-persawahan yang luas, pasti ada pabrik-pabrik tepung beras. Atau, SDA-SDA kita yang lain, di situ berdenyut kencang penelitian-penelitian dan percobaan-percobaan. Dan, bergemuruh mesin pabrik-pabrik di semua bidang SDA. Ketika itulah wajah Indonesia dipaksa menghadap ke IRAMASUKA, IBT dan KAWASAN TIMUR.
Tegasnya, jangan stop, tapi kurangi porsi politik. Perbesar porsi kerja nonpolitik di kawasan Indonesia Timur.

Mindset kawan-kawan politisi juga hendaknya berubah. Hemat saya, ada dua catatan untuk dipertimbangkan politisi di kawasan ini. Pertama, berjuang men-“daerahisasi” aset-aset daerah yang belum memberi berkah (nilai tambah yang adil) bagi daerah. Yang kedua ialah menghapus jabatan gubernur, yang mungkin menyerap anggaran negara yang besar dan hanya menjadi ajang “perebutan jabatan” bagi politisi daerah saat pemilihan calon gubernur, yang juga berbiaya amat besar dan mahal.

Bolehkah gubernur itu, sebagai perpanjangan tangan dari presiden, ditunjuk langsung oleh presiden dengan tugas yang lebih ramping dan yang berbiaya negara lebih ringan? Inilah dua agenda politisi daerah di kawasan ini. Dua agenda ini bolehlah disebut “jihad politik”.
“HANYA” dengan mengubah mindset demikian, Jawa bisa dipaksa memerhatikan kawan² politisi dari luar Jawa dan wajah Indonesia pun dipaksa menghadap ke kawasan timur!

News Feed