English English Indonesian Indonesian
oleh

Jejak Genealogis dan Kedalaman Arkeologis: Perspektif Foucaldian dalam Penulisan Sejarah Lingkungan dan Kebudayaan

Oleh: Ulla Mappatang, Alumni Unhas/Mahasiswa Doktoral di Universiti Malaya

Masyarakat Kajian Budaya Makassar (Makassar cultural studies society), selanjutnya disebut Masyarakat cs Makassar, sebuah kelompok kajian budaya (cultural studies) yang berkedudukan di Makassar, khususnya di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (FIB UNHAS), Sabtu malam (15/10) menggelar obrolan mengenai perspektif sejarah Foucaldian.

Saya sendiri selaku host dalam obrolan tersebut mengundang Andi Faisal, Doktor bidang kajian Budaya yang kini merupakan Ketua Program Studi Magister Kajian Budaya, FIB UNHAS. Obrolan pun dihadiri rekan – rekan pengiat kajian budaya (cultural studies) melalui aplikasi Google meet. Bersama kami berdua, hadir pula menyumbangkan pemikirannya, Jalaluddin Basyir, dosen Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar yang sementara ini juga melanjutkan studi di program Doktoral Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pascasarjana UGM, Yogyakarta.

Tak ketinggalan, pegiat – pegiat cs (singkatan cultural studies) turut menghangatkan obrolan diantaranya Apriadi Bumbungan, jebolah Master cs UI; Sastra Ilo, Jurnalis cum master sastra UNHAS; dan juga Irwanto, Mahasiswa cs UNHAS (sebutan untuk Magister Kajian Budaya FIB UNHAS) yang belakangan menggagas Forum Diskusi Mahasiswa Pascasarjana FIB UNHAS. Biasanya, obrolan – obrolan cs Makassar senantiasa dibersamai oleh Aslan Abidin, Sastrawan cum Akademisi UNM yang tahun kemarin baru saja menyelesaikan studi Doktoralnya di FIB UNHAS itu. Kak Aslan, sapaan kami, mengkomfirmasi tak sempat bergabung sebab agenda ISM (Institut Sastra Makassar) di setiap sabtu sore hingga malam tak dapat ditinggalnya.

***

Obrolan dikemas santai dan secair mungkin. Saya selaku inisiator menikmati obrolan demi obrolan yang memang disengaja hanya punya topik namun tak ada alur baku untuk itu. Obrolan ini diinisiasi untuk mendapatkan masukan pada kertas kerja saya pada satu webminar “Media dan Budaya” di Malaysia.

Saya rencana menulis mengenai sejarah bajak laut yang dihadirkan dalam teks – teks sastra di masa kolonial dalam hubungannya dengan bajak laut Abu Sayyaf kekinian dan pembobolan / perompakan digital hacker Bjorka yang lagi hangat di Indonesia belakangan ini. Termasuk, juga menjajaki kemungkinan untuk mendapatkan asupan berfaedah untuk proposal penelitian disertasi saya tentang “ekologi pascakolonial” di Universiti Malaya.

Perspektif sejarah dan kritik pascakolonial dalam mengkaji representasi Lingkungan dan manusia dalam teks sastra dan sejarah yang masih berlanjut hingga kini secara wacana dan praktik, sangat kental di dalamnya. Olehnya, obrolan itu sangat lah penting bagi saya secara pribadi. Itulah mengapa saya menginisiasinya lagi sebagaimana hari – hari sebelumnya yang sudah kami lakukan berkali – kali.

Obrolan mengalir dari isu kebudayaan kekinian seperti La Galigo dan bissu, serta isu gender di Unhas dan masyarakat Sulsel hingga ke minat Kajian masing – masing.

Saya mengajukan soal bajak laut dan perompakan digital yang lagi hangat sebagaimana tujuan awal saya. Bagaimana itu dilihat dari perspektif sejarah ala Michel Foucault yang lazim dikenal dengan istilah Foucaldian? Topik bajak laut dan perompakan digital inilah yang rencana saya akan bawakan minggu depan di sebuah webminar / konferensi tahunan di Universiti Sains Malaysia (USM).

Tesis argumen saya adalah, karena perspektif Foucaldian berangkat dari sejarah masa kini, maka saya mengajukan pertanyaan: Bagaimana membaca fenomena hacker (perompak digital) saat ini dalam hubungannya dengan aktivitas perompakan bajak laut (pirates/lanun) di masa dahulu yang makin marak di masa kolonial?

Sementara itu, perompakan laut oleh Kelompok Abu Sayyaf di perairan Laut Sulu sana masihlah sering terjadi, namun perompakan data negara dan Bank di Indonesia juga makin marak di era digital sekarang ini. Adakah hubungannya? Adakah kesamaan praktik dan tujuannya? Jika ya, Bagaimana itu dibaca? Khususnya dibaca dalam perspektif sejarah, terlebih dari kacamata Foucaldian.

Meski jaringan sesekali tersendat – sendat, obrolan makin lancar saja.

Malam makin larut, namun tidak terasa karena obrolan makin serius mesti tetap enjoy.

Kak Ichal, sapaan Andi Faisal, menyodorkan beberapa pandangan. Sampai ketika, buku Using Foucault’s Method karya Gavin Kendall and Gary Wickham ditarik dari rak buku yang memang melatari layar google meet-nya dari tadi.

Sebelumnya lagi, kak Jalal, sapaan Jalaluddin Basyir, terlebih dahulu menunjukkan buku Paulo Saukko Doing Research in Cultural Studies, kitab suci metode penelitian anak KBM (Kajian Budaya Media) UGM ampuhan Prof Faruk. Kak Jalal memperlihatkan buku itu di layar lalu menunjukkan halaman 115 dan seterusnya yang secara spesifik mengarahkan pembacaan pada genealogi Foucault di buku itu.

Tak ketinggalan, sebagai aplikasi dari genalogi Foucault ini, saya juga menyarankan kepada Apri – yang juga risau mengenai penelitian budaya dan kuasa-nya di Toraja – untuk mengecek juga bagaimana genealogi digunakan dalam sebuah disertasi Yudi Latif yang dibukukan dengan judul Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad Ke-20. Di buku ini, minimal cara genealogi bekerja dapat dilihat, dipahami, dan ditiru jika perlu.

Dengan muka yang dicondongkan ke arah kamera, Apri menunjukkan konek-nya dengan obrolan malam itu terkait kegelisahan perspektif dan metode yang hendak dicarinya selama ini.

Hamparan data dan informasi yang melimpah, bagaimana mengolahnya? Pakai perspektif apa? Dan, metodenya bagaimana supaya lebih terarah dan tersistematis? Begitu lontaran pertanyaan Apri – pemilik tesis Magister tentang “Geografi Budaya” kampung orang Toraja di Makassar yang dikenal dengan kampung Rama itu.

Kepalanya sesekali digaruk sembari mengepulkan asap di depan layer G-meet-nya tanda dia tengah risau dan kali ini seperti mendapatkan titik cerah dari yang dicarinya selama ini. Sebetulnya, apa yang Apri tanyakan, itu juga yang hendak daku ungkapkan, cuma kalah gercep (baca: gerak cepat) saja atau malah mungkin masih sungkan – sungkan saja.

***

Dari penjelasan kak Ichal – penulis disertasi soal “Ruang Warung Kopi di Makassar” itu–  dan kak Jalal — yang tesisnya mengenai Politik Wacana Media mengenai aksi demonstrasi Mahasiswa Makassar yang kemarin juga menulis satu kertas kerja bertema citra perempuan “malebbi’ ” Bugis itu – saya menangkap bahwa berbicara mengenai perspektif sejarah Foucaldian,  genealogi dan arkeologi menjadi kata kunci, pada akhirnya.

Bagaimana genealogi digunakan Foucault untuk melacak jejak keterputusan (diskontinuitas) sejarah yang menandai “dinamika” dan “transformasi” sejarah. Metode ini, cocok digunakan untuk sejarah yang bersifat diakronik, yakni sejarah yang berupa perlintasan zaman untuk melihat perjalanan masa demi masa, era demi era, intinya sejarah yang dinamis (bergerak).  

Sementara itu, “arkeologi” digunakan untuk menggali kedalaman sinkronik atau sejarah pada masa tertentu. Dimana, relasi kuasa, peminggiran, actor, institusi, dan rezim pengetahuan (episteme) yang bekerja pada masa itu digali dan dilihat relasi kuasanya terhadap dominasi dan peminggiran di masa itu. Selanjutnya, apakah kuasa dan peminggiran itu berlanjut atau terputus (continue or discontinue) pada era selanjutnya, tugas “genealogi”-lah untuk melacak (to trace)-nya.

Lagi, dari tangkapan saya, sejarah dalam perspektif Foucaldian mengarah pada sejarah kuasa yang digerakkan oleh wacana (discourse). Kontinuitas dan diskontinuitas wacana itulah yang dilacak oleh genealogi. Sementara bagaimana kuasa wacana itu dikonstruksi dan diproduksi serta direproduksi hingga menjadi dominan di masanya, digali dengan menggunakan metode arkeologi. Genealogi untuk melacak jejak, sementara arkeologi untuk menggali kedalaman. Begitu kira – kira.

***

Apri dan saya lalu seolah berhenti sejenak. Seolah memikirkan rencana riset masing – masing, meski bisa jadi juga tidak. Apri soal Toraja, saya tentang kaltim. Di Toraja tentang kontestasi kuasa gereja dan adat serta pariwisata, di kaltim soal ekologi hutan dan sungai. Karena perspektif Foucault mengenai sejarah berangkat pada masa kini, bukan di masa lalu, maka kami mencari fenomena terbaru yang akan ditarik jejaknya ke belakang mengapa sampai hadir yang demikian.

Saya menemukan kembali jalan “calon” disertasi saya mengenai ekologi pascakolonial di Kalimantan, khususnya Kalimantan bagian pantai Timur yang baru saja lubang bekas tambangnya menelan korban nyawa ke-41 di Berau.

Sementara Apri,  mengingat – ingat, mencari – cari “peristiwa” sejarah masa kini apa yang cocok. Saya menyarankan isu pariwisata dan lingkungan hidup, tentang kuburan batu dan kelanjutan ekologis di sana, berikut kuasa – kuasa agama yang berkontestasi dengan budaya “aluk todolo” (ajaran leluhur).

Apri masih mikir – mikir, dicari dulu bilangnya. Yang pasti, pertaruhannya adalah pegunungan dan dataran tinggi Toraja yang mengaliri Sungai Sa’dang, jangan sampai habis dan longsor di masa mendatang, tegasnya. “Sejarah pergeseran episteme” pengetahuan di Toraja harus dilacak ulang, bilangnya lagi. Di Kaltim juga begitu, tambahku.

Menimpali, kak Ichal mengingatkan, “bukan untuk mencari ‘the origin’ yang asli dan esensialis yah, bukan juga untuk upaya pelestarian dan ketahanan budaya seperti yang ramai, perspektif Foucault tidak bugitu, bahkan mengkritik cara pandang demikian. Perspektif sejarah Foucault itu melacak jejak keterpatahan sejarah (diskontinuitas) sampai melahirkan sebuah dominasi dan peminggiran terhadap yang liyan sekarang ini”, timpal kak Ichal.

“Termasuk berarti peminggiran “episteme” masyarakat lokal Kalimantan tentang alam dan lingkungannya berarti juga punya patahan sejarah sampai massif dan dianggap normal praktik eksploitasi lingkungan hidup setelahnya”, pikirku.

Episteme (cara bernalar) ekstraktivisme yang selama ini dominan harus dilacak ulang jejaknya, umpanku ke kak Ichal yang direspons dengan senyum – senyum menandai ingatan akan obrolan kami beberapa waktu lalu, ketika istilah itu baru saja kujumpai di sebuah jurnal sejarah lingkungan yang khusus mengkaji Kalimantan Timur. Ekstraktivisme: kekayaan alam Kalimantan diambil saripatinya (ekstraknya) dan dibawa keluar, lalu ampas yang tersisa ditinggal dan dibuang begitu saja untuk alam dan manusia di Kalimantan. Itulah defenisi dan ilustrasi kami waktu itu. Sampai tadi malam, masih begitu. 

Makin menarik.

Malam pun makin tua.

Makin cerah pula ide – ide yang mulanya gelap seiring tenggelamnya matahari sabtu sore kemarin. Satu – satu pamit, kak Jalal izin istirahat, yang lain pun ikut undur diri.

Catatanku kubuka – buka lagi, kucek satu per satu halamannya. Lalu, say thanks ke semua. Cukup sampai di sini dulu. Sebelum layar G-meet ditutup, kami saling menyapa.

Di grup wa sudah ada ebook Paulo Saukko dan Using Foucault’s method menunggu dibaca. Saya dan Apri makin bersemangat.

Sejarah lingkungan dan sejarah “kuasa”agama – pariwisata dari perspektif Foucaldian, menanti.

Kami masih harus belajar banyak. Dan lebih bersungguh – sungguh tentunya.     

***

Kuala Lumpur, 15-16 Oktober 2022    

News Feed