English English Indonesian Indonesian
oleh

Tragedi Kanjuruhan

Setiap 1 Oktober anak bangsa memperingatinya sebagai Hari Kesaktian Pancasila, sekaligus hari berkabung nasional ditandai dengan pengibaran bendera setengah  tiang untuk menghormati tragedi berdarah G 30 S /PKI yang mengakibatkan gugurnya 6 jenderal dan 1 perwira pertama TNI sebagai pahlawan revolusi. Setelah tertimbun oleh sejarah perjalanan waktu selama 57 tahun, tragedi berdarah tersebut seakan berulang dengan gugurnya 132 warga pasca pertandingan sepak bola antara Persebaya vs Arema FC di Stadion Kanjuruhan Malang 1 Oktober 2022.  

Rangkaian spekulasi pun berseliweran mencari  maintrigger kekisruhan ini. Sejumlah pihak dikambinghitamkan sebagai biang kerok lantaran tak  ada yang  berani bertanggung jawab secara kesatria atas tragedi berdarah tersebut. Padahal hajatan pertandingan sepak bola yang menjanjikan fulus besar dengan penonton yang membludak merangsang minat banyak orang berdesak desakan sebagai pihak dalam ajang itu.

Sudah merupakan hal yang lazim dalam budaya bangsa ini untuk gembar gembor dan jor-joran menduduki jabatan penting, namun jika dalam jabatan tersebut terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian bahkan korban, maka oknum pejabat umumnya cenderung pengecut dan munafik untuk tidak bertanggung jawab dengan mengkambinghitamkan pihak lain. Hal ini sangat kontras dengan tradisi harakiri masyarakat Jepang yang melahirkan ksatria sejati. Setiap orang yang menduduki jabatan penting dalam pemerintahan Jepang langsung melakukan harakiri dengan mundur dari jabatannya jika terjadi musibah yang terkait dengan lingkungan kerjanya, meski  musibah yang terjadi  bukan karena kesalahannya.

Tak dapat dipungkiri jika tragedi Kanjuruhan dipicu oleh aksi sebagian penonton yang turun ke lapangan hijau pasca pertandingan untuk meluapkan kekesalannya pada tim kesayangannya Arema FC  yang menderita  kekalahan 3-2 dari Persebaya. Entah siapa yang pertama kali suporter sepak bola di tanah air kita yang cenderung tidak sportif dengan bertindak agresif jika TIM kesayangannya kalah. Padahal dalam kompetisi apapun pasti hasilnya ada yang menang dan ada yang kalah. Mungkinkah tradisi destruktif ini yang bermutasi dalam ajang politik, sehingga setiap konstestan yang kalah, pasti menggugat pemenang dengan rangkaian tuduhan klise menjadi korban kecurangan.    

Sepak bola sebagai cabang olahraga populer secara universal justru menjadi tontonan berkelas dan sangat mahal di belahan Eropa dan Amerika Latin. Hal ini terjadi karena para suporter yang membanjiri arena pertandingan murni hanya untuk menikmati kelincahan para bintang kesayangannya berlaga di rumput hijau. Meski Tim jagoan kalah namun mereka tetap legawa menerima kekalahan tersebut tanpa aksi brutal sebagaimana yang lazim dilakukan suporter bola di tanah air kita.

Tragedi Kanjuruhan tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan cara aparat kepolisian mengelola kerusuhan dengan menembakkan gas air mata ke arah penonton di atas tribun. Hal ini semakin menambah tensi kepanikan penonton untuk berlari mencari akses penyelamatan diri. Ironisnya karena sebagian besar pintu akses stadion terkunci rapat mengakibatkan jatuhnya banyak korban yang terinjak injak dan sesak napas. (*)

News Feed