English English Indonesian Indonesian
oleh

Sisi Lain dari Keindahan, Pameran Seni Rupa

OLEH: Kahfi Kelana

Ketika berkunjung ke pameran seni rupa apa yang terlintas dalam benak kalian? Apa yang kalian rasakan berada di tengah-tengah ruang pameran tersebut? Bagaimana kalian menikmati pameran itu? Mengapa kalian tertarik dengan pameran yang tak sama sekali memperlihatklan keindahannyas?

Pertanyan-pertanyan di atas, penulis mencoba menjawab dengan pengalaman berbeda ketika mengikuti pameran “Behind The Beauty” bertema “an artistic journey to find home” pada tanggal 7 Agustus 2022 di Berdaya Book Kota Parapare. Seakan-akan pameran ini manawarkan perbedaan ke publik, selama pengalaman penulis mengamati pameran yang diadakan di Kota Makassar. Baru kali ini perbedaan itu, menarik ingin saya tuliskan melalui sudut pandang seorang pengkajian teater.

Perbedaan itu, nampaknya menyatakan bahwa seperti inilah di balik keindahan, hal itulah menarik perhatian saya untuk mengamati secara langsung, setelah perupa Zam Kamil menjelaskan panjang kali lebar kepada saya. Bahwa ia berencana berpameran dengan gagasan “menemukan rumah” selaku inisiator Behind The Beauty sekaligus kurator. Ia tuliskan dalam catatan kuratorial kurang lebih seperti ini, “perjalanan menuju ketidaktahuan, membawaku tiba di ujung waktu, dan akapun merenungi, setelah melewati jalan berliku, kupilih jalan pulang, sebab ia tempatku berdiri kini, tak ingin dilalui, kecuali menuju kepadanya.”

Atas dasar itulah saya ingin meluangkan waktu untuk mengamati seperti apa pameran Behind The Beauty yang ia akan tawarkan kepada publik. Sebelum mengamati pameranya, saya mesti menggunakan kendaraan yang seadanya dengan jarak yang harus ditempuh sekitar 150 km. Bukan sejauh jarak yang harus ditempuh yang saya pikirkan, tetapi gagasan Zam Kamil lah ingin saya kuliti dengan melebih jarak yang harus saya tempuh, menyempatkan live sketch di perbasatan kabupaten Pangkep-Barru dengan menafsirkan pemandangan lautan berbeda-beda dan sejuah mana kita memaknai proses sisi lain dari keindahan itu. Tak hanya itu, ada pula seseorang merespons dengan memainkan seruling yang ia bawakan selama perjalanan ‘menemukan rumah’. Kecairan seperti itu nampaknya menarik dijadikan sebagai inspirasi sebelum berpameran.

Behind The Beauty kini sudah tahun ketiga. Menurut kurator, ada yang berbeda secara signifikan dengan sebelumnya, kini jalan “menemukan rumah”, sementara sebelumnya memanfaatkan “rumah tanpa penghuni” sebagai ruang berpameran. Dengan mengangkat tema “cause tomorrow is another day”. Ada persamaan saya rasakan, namun ada pula perbedaan saya nikmati. Sama dalam pengertian rumah, tetapi beda hal dalam menerjemahkan rumah sebagai tempat pulang untuk berkarya. Apa seperti itukah yang dimaksud di balik keindahan?

Mengamati di balik keindahan karya-karya Behind The Beauty seorang filsuf dan fisikawan Gustav Theodor Fechner (1801–1887) ia dikenal pula sebagai pakar estetika eksperimental. Disebut demikian karena ia menolak konsep deterministik terhadap objek esensi seni dan keindahan, estetika seperti itu sebagai estetika dari atas.

Ia sendiri menciptakan estetika dari bawah yang lebih mencari kejelasan, bukan sublimitas (keagungan) seni. Ia bekerja secara induktif dengan melakukan berbagai eskperimen estetik. Mengumpulkan data tentang warna yang paling banyak disukai responden, serta alasan mereka menyukai/menyenangi warna tersebut. Ia juga meminta responden memilih dua bentuk atau dua warna dan mengapa mereka memilih bentuk dan warna tersebut.

Menurutnya ada tiga arti keindahan, yakni sebagai berikut; pertama, dalam arti luas bahwa seni adalah segala sesuatu yang menyenangkan secara umum. Kedua, keindahan memberikan kesenangan yang lebih tinggi, tetapi masih bersifat indrawi. Ketiga, keindahan sejati tidak hanya menyenangkan, tetapi juga kesenangan yang sesungguhnya, yaitu memiliki nilai-nilai dalam kesenangan tersebut yang didalamnya terkait konsep keindahan dan konsep moral, kebaikan.

Karya-karya pameran Behind The Beauty bertema “an artistic journey to find home” dari pengamatan penulis senada menurut apa yang telah diartikan Theodor Fechner sebagaimana telah dijelaskan pada paragraf di atas. Bahwa menemukan rumah itu ‘menyenangkan bagi siapa saja’, ‘memberikan kesenangan sekaligus efek kesadaran indrawi’ dan ‘keindahan itu kebaikan yang berkonsep’.

Bahwa artifact project selaku penggagas Behind The Beauty ia tak butuh lagi galeri untuk menuangkan hasil karya mereka, sebab menurut penulis keindahan yang ia gagaskan melebihi dari konsep galeri yang seleksinya serba ketat dan dipenuhi dari kepentingan karya apa saja yang perlu dipamerkan. Itulah perbedaan yang penulis dapatkan dari perjalan sisi lain dari keindahan, dalam hal ini pemeran seni rupa. Tak hanya soal gallery, konsep berpameran mereka adalah temporer (berkala) tiap setahun sekali di bulan Agustus.

Dari gagasan Zam Kamil selaku kurator, ingin ia buktikan melalui karya-karya Behind The Beauty memberikan efek kesadaran, atau ia mengistilahkannya akhir dari pameran adalah “happening art”.

Dasar yang kuat ide pun akan bertahan lama. Salah satu cara bertahan lama aktif memperbarui informasi, literasi, diskusi, dan sosialisasi. Apalagi kecepatan teknologi saat ini, begitu banyak perubahan terjadi selama setahun lamanya, tanpa ada karya-karya terbarukan dari kalian, publik tak terefleksikan melalui pameran tersebut. Sekali lagi, ‘pembaharuan berkelanjutan itu penting’. Sekiranya itu perbedaan dari pameran yang lainnya.

Untuk menikmati pameran Behind The Beauty kalian bersedia menunggu tahun berikutnya lagi, tentu dengan tema yang berbeda pula. Setahun itu mereka gunakan untuk berkarya dan berefleksi atas peristiwa yang dialami selama setahun. Perbedaan sederhana itu membuat penulis tertarik mengamati perkembangan karya-karya Pameran Behind The Beauty selanjutnya.(*)

Kahfi Kelana seorang alumni Institute Seni dan Budaya Indonesia Sulsel. Pendiri kelana artspace dan bisa di hubungi melalui email, [email protected]

News Feed